Bos Bulog: Banyak ‘Mbah-Mbah’ di Pasar Tradisional Gaptek Pakai Klik SPHP
JAKARTA - Direktur Utama (Dirut) Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan bahawa seluruh proses penjualan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) diwajibkan menggunakan aplikasi Klik SPHP untuk memastikan pendataan akurat.
Namun ternyata di lapangan, masih ada kendala dalam penerapan aplikasi tersebut khususnya di pasar tradisional. Kata Rizal, mayoritas pengecer di pasar tradisional merupakan pedagang berusia lanjut yang tidak terbiasa menggunakan teknologi.
"Yang jual-jual di pasar khususnya pengecer-pengecer ini mayoritas banyak yang sudah sepuh-sepuh, 'mbah-mbah' dan gaptek. Rata-rata mereka penggunaan Hp ini kurang mahir," katanya dalam rapat kerja bersama Komisi IV DPR RI di Jakarta, Kamis, 21 Agustus.
Untuk mengatasi hal tersebut, Bulog menyiapkan strategi pendekatan langsung ke pasar-pasar tradisional agar para pengecer dapat terbiasa menggunakan aplikasi tersebut.
"Perlu adanya upaya sosialisasi dan pendekatan seluruh anggota Bulog ke pasar-pasar tradisional. Dengan cara ini, akan mempermudah dan mempercepat outlet-outlet masyarakat agar lebih mudah melakukan pemesanan melalui Klik SPHP tersebut," jelas Rizal.
Rizal menyebut, untuk penyaluran SPHP kini dilakukan melalui tujuh jalur distribusi agar tepat sasaran dan mencegah penyelewengan.
"Pelaksanaan SPHP sesuai dengan juknis hasil revisi terbaru kami salurkan melalui tujuh saluran. Pertama, pengecer di pasar rakyat. Kedua, Koperasi Desa Merah Putih. Ketiga, jajaran pemerintah daerah maupun instansi lainnya. TNI dan Polri juga kami libatkan, bahkan mereka berjualan beras SPHP di pasar hingga satuan masing-masing," ujarnya.
Selain itu, Bulog juga bekerja sama dengan BUMN melalui 4.000 outlet, serta swalayan dan toko modern seperti Alfamart, Indomaret, dan Hypermart. Namun, ia menegaskan grosir tidak diizinkan menjual beras SPHP karena rawan praktik oplosan.
Baca juga:
Menurut Rizal, sasaran utama program ini adalah konsumen rumah tangga dengan batas maksimal pembelian dua kemasan ukuran 5 kilogram. Sementara untuk wilayah 3T (tertinggal, terdepan, terluar), Bulog memberikan kelonggaran hingga 10 kemasan.
Bulog juga menetapkan harga sesuai zonasi. Untuk Zona 1, harga keluar gudang Rp 11.000 dengan harga eceran tertinggi (HET) Rp 12.500. Zona 2 sebesar Rp 11.100 dengan HET Rp 13.100. Sementara di Zona 3, harga keluar gudang Rp 11.600 dengan HET Rp 13.500.