Facebook Jadi Sarang Pelecehan dan Kekerasan bagi Aktivis Lahan Global
JAKARTA – Facebook menjadi sarang pelecehan online bagi para aktivis lahan dan lingkungan. Data ini diungkapkan oleh Global Witness, sebuah lembaga nirlaba yang menyelidiki pelanggaran lingkungan.
Ada lebih dari 200 aktivis yang disurvei dan 90 persen di antaranya mengatakan bahwa mereka telah mengalami berbagai pelecehan dan kekerasan secara daring. Namun, Facebook bukan satu-satunya platform yang merugikan para aktivis.
Statistik Global Witness menunjukkan bahwa X yang sebelumnya dikenal sebagai Twitter, WhatsApp, serta Instagram turut menjadi saran pelecehan dan kekerasan. Dari keempat platform, Facebook menempati peringkat terburuk.
Data menunjukkan bahwa media sosial dari Meta mendominasi. Sekitar 62 persen partisipan mengalami pelecehan di Facebook, diikuti dengan X sebanyakan 37 persen, WhatsApp sebanyak 36 persen, dan Instagram sebanyak 26 persen.
"Statistik itu benar-benar membekas di ingatan saya. Statistiknya jauh lebih tinggi dari yang kami perkirakan," ujar Ava Lee, Kepala Strategi Kampanye Ancaman Digital Global Witness, dikutip dari The Verge pada Sabtu, 26 Juli.
Masalah pelecehan dan kekerasan yang dialami aktivis lahan di seluruh dunia ini sejalan dengan dorongan kebebasan berbicara di media sosial. Baru-baru ini, Meta menghentikan program pengecekan fakta dari pihak ketiga yang dapat membatasi postingan pengguna.
Mereka justru beralih ke fitur yang diinisiasi X, yakni Catatan Komunitas, untuk mendorong kebebasan berbicara. Menurut Juru Kampanye Senior Global Witness Hannah Sharpe, ini merupakan sebuah ironi karena kebebasan berbicara justru membungkam mereka.
Salah satunya dialami oleh Fatrisia Ain, pemimpin kolektif perempuan lokal dari Indonesia. Ia menyatakan bahwa kelompoknya berupaya untuk melindungi lahan petani yang dirampas perusahaan kelapa sawit serta mengatasi masalah pencemaran sungai di wilayah tersebut.
Bukannya mendapat dukungan, mereka justru dituding sebagai orang komunis. Ain berupaya untuk menghapus unggahan pihak lain yang menyerangnya dengan melaporkan masalah tersebut ke Facebook, tetapi tindakan ini tidak berhasil.
"Mereka bilang itu tidak berbahaya, jadi mereka tidak bisa menghapusnya. Itu berbahaya. Saya harap Meta mengerti, di Indonesia, itu berbahaya," kata Ain.
Baca juga:
Menanggapi laporan ini, Juru Bicara Meta Tracy Clayton mendorong para pengguna untuk memanfaatkan alat yang sudah disediakan di platform mereka untuk membantu memberi perlindungan diri. Misalnya seperti fitur Hidden Words atau Limits.
Sembari pengguna memanfaatkan fitur yang sudah ada, Meta berjanji untuk meninjau unggahan Facebook yang menargetkan Ain dan para aktivis lainnya.