Kuaetnika Ungkap Perbedaan Mendasar setelah Enam Tahun Kepergian Djaduk Ferianto

JAKARTA - Grup world music asal Yogyakarta, Kuaetnika, memastikan diri masih tetap berkarya meski sudah enam tahun ditinggal pendirinya, Djaduk Ferianto.

Akhir pekan lalu, Kuaetnika tampil secara lengkap dalam gelaran BRI Jazz Gunung Series 1 Bromo, yang digelar di Jiwa Jawa Resort Bromo, Probolinggo pada Sabtu, 19 Juli.

Salah satu personel senior Kuaetnika, Purwanta, mengakui bahwa kepergian Djaduk yang meninggal dunia pada 13 November 2019 adalah kehilangan besar.

Kuaetnika bahkan sempat kebingungan karena harus berjalan tanpa seorang pemimpin. Pasalnya, Pur—sapaan akrabnya—mengatakan, Kuaetnika didasarkan pada nilai-nilai yang dianut mendiang Djaduk.

“Bahwa kita kehilangan sosok itu, iya. Karena ketika kita bingung, enggak ada yang ditanya,” kata Purwanta ketika ditemui Ivan Two Putra dan Bambang E Ros dari VOI setelah penampilan di BRI Jazz Gunung Series 1 Bromo.

Sekarang, enam tahun setelah kepergian Djaduk, Purwanta menyebut adanya perubahan besar. Setiap permasalahan dan ide dalam berkarya, dibangun di atas kolektivitas para personel.

“Kita harus berdewasa diri, ya kita sharing. Itu sebenarnya yang sangat membedakan,” ujar Pur. “Jadi, kalau dulu kita sangat tergantung dengan beliau, terus tiba-tiba tidak ada beliau dan kita harus memulai lagi, bukan sesuatu yang gampang.”

Melanjutkan penjelasan Purwanta, Danny Eriawan yang juga personel senior mengatakan, Djaduk adalah sosok yang tak tergantikan dan warisannya tetap ada di Kuaetnika.

“Menurut saya, tidak akan ada sosok yang bisa menggantikan Pak Djaduk. Itulah kenapa kita berbesar hati, untuk sekarang berbagi tanggung jawab,” kata Danny.

“Di Kuaetnika ini, sekarang kita semakin merasa memiliki. Toh setelah Pak Djaduk tidak ada, kita bersepakat untuk meneruskan apa yang sudah dinyalakan oleh Pak Djaduk di Kuaetnika,” pungkasnya.