Gencatan Senjata Gaza Dapat Dicapai Tapi Mungkin Membutuhkan Waktu Lebih Lama

JAKARTA - Pejabat Israel mengatakan pada Hari Selasa, perbedaan antara pihaknya dengan kelompok militan Palestina Hamas dalam perundingan damai di Qatar dapat dijembatani, meskipun mungkin membutuhkan waktu lebih dari beberapa hari untuk mencapai kesepakatan guna membebaskan sandera dan menghentikan pertempuran.

Delegasi Israel dan Hamas telah berada di Qatar sejak Hari Minggu dalam upaya baru untuk mencapai kesepakatan, setelah Presiden Donald Trump mengatakan pekan lalu, Ia berharap proposal baru yang didukung Amerika Serikat dapat menghasilkan kesepakatan.

Pada Hari Senin malam, Presiden Trump bertemu dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang mengajukan rencana agar beberapa penduduk Gaza dipindahkan ke luar negeri. Ini ditentang keras oleh semua kelompok besar Palestina

Menteri Israel Zeev Elkin, yang duduk di Kabinet Keamanan PM Netanyahu, mengatakan, ada "kemungkinan besar" gencatan senjata akan disepakati.

"Hamas ingin mengubah beberapa hal penting, ini tidak mudah, tetapi ada kemajuan," ujarnya kepada lembaga penyiaran publik Israel, Kan, pada hari Selasa, seperti melansir Reuters 9 Juli.

Para pejabat senior Israel yang memberikan pengarahan kepada wartawan di Washington mengatakan, penyelesaian kesepakatan di Doha mungkin membutuhkan waktu lebih dari beberapa hari. Seorang pejabat Israel lainnya mengatakan bahwa kemajuan telah dicapai.

Seorang juru bicara Qatar Majed Al Ansari mengatakan pada Hari Selasa, mediator Qatar dan Mesir belum membahas kesepakatan gencatan senjata final, tetapi masih mengupayakan kesepakatan tentang kerangka prinsip yang akan mengarah pada perundingan yang lebih rinci.

"Perundingan belum dimulai, tetapi kami sedang berdiskusi dengan kedua belah pihak mengenai kerangka kerja tersebut," kata Al Ansari.

"Kedua pihak masih berada di Doha. Jadi, itu selalu merupakan pertanda baik," tandasnya.

Sementara, Utusan Presiden Trump, Steve Witkoff, yang terlibat dalam menyusun proposal gencatan senjata terbaru, akan berkunjung ke Doha minggu ini untuk bergabung dalam diskusi di sana, ujar sekretaris pers Gedung Putih Karoline Leavitt kepada para wartawan pada Hari Senin.

Proposal tersebut mencakup pembebasan sandera secara bertahap, penarikan pasukan Israel dari sebagian wilayah Gaza dan diskusi untuk mengakhiri perang sepenuhnya.

Tidak ada pernyataan terbaru langsung mengenai perundingan tersebut dari Hamas maupun sumber-sumber Palestina pada Hari Selasa.

Sebelumnya, sumber-sumber Palestina mengatakan pada Hari Senin, kemajuan telah terhambat oleh pembatasan Israel dalam mengizinkan bantuan kemanusiaan masuk ke Gaza.

Di Kota Gaza, anak-anak berjalan di antara puing-puing, tempat penduduk setempat mengatakan serangan udara Israel telah terjadi semalam, dengan anak-anak di antara korban. Militer Israel tidak segera memberikan rincian tentang target serangan tersebut.

"Kami berharap gencatan senjata akan tercapai dan pembantaian terhadap rakyat Palestina akan berhenti," kata Mohammed Joundiya, berdiri di reruntuhan sisa-sisa serangan.

Di parlemen Israel di Yerusalem, mantan sandera Keith Siegel, yang dibebaskan pada bulan Februari dalam gencatan senjata sebelumnya, menggambarkan penderitaan mereka yang ditahan tanpa akses komunikasi selama ratusan hari di tahanan Hamas.

"Kita memiliki kesempatan untuk menyelamatkan nyawa," katanya, "setiap menit sangat penting."

Hamas telah lama menuntut diakhirinya perang sebelum membebaskan para sandera yang tersisa, sementara Israel bersikeras tidak akan setuju untuk mengakhiri pertempuran sampai semua sandera dibebaskan dan Hamas dibubarkan.

Diketahui, konflik terbaru di Gaza pecah usai kelompok militan Palestina menyerang wilayah selatan Israel pada 7 Oktober 2023, menyebabkan 1.200 orang tewas dan 251 lainnya disandera menurut perhitungan Israel.

Itu dibalas Israel dengan melakukan blokade, serangan udara hingga operasi militer di wilayah Jalur Gaza.

Israel dan kelompok militan Palestina menyepakati gencatan senjata serta pertukaran sandera dan tahanan pada 19 Januari.

Setidaknya 20 dari 50 sandera yang tersisa di Gaza diyakini masih hidup. Mayoritas sandera awal telah dibebaskan melalui negosiasi diplomatik, meskipun militer Israel juga telah membebaskan beberapa sandera.

Pada 2 Maret, Israel kembali melakukan blokade total terhadap Gaza dengan dalih menekan kelompok militan Palestina untuk menyepakati gencatan senjata usulan Amerika Serikat dan pertukaran sandera-tahanan.

Seiring berakhirnya kesepakatan gencatan senjata, Israel kembali menggelar operasi militer di Gaza pada 18 Maret.

Hingga kemarin, korban tewas Palestina di Jalur Gaza sejak konflik terbaru pecah telah mencapai 57.575 jiwa, mayoritas perempuan dan anak-anak, sementara 136.879 lainnya luka-luka, menurut sumber medis di Gaza, dikutip dari WAFA.