Menteri Kebudayaan Fadli Zon Dorong Kolaborasi Riset Warisan Budaya Indonesia di BRIN Cibinong
CIBINONG - Menteri Kebudayaan Fadli Zon mendorong percepatan riset dan kolaborasi lintas lembaga untuk menjaga warisan budaya Indonesia. Pesan itu ia sampaikan saat meninjau Ruang Koleksi Ilmiah Arkeologi dan Laboratorium Genomik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Cibinong, Kabupaten Bogor, Senin, 30 Juni.
“Indonesia memiliki warisan budaya yang luar biasa. Baik benda maupun tak benda. Semua perlu kerja sama riset antarlembaga agar upaya pelestariannya berjalan maksimal,” kata Fadli Zon di hadapan jajaran BRIN.
Ia menegaskan repatriasi koleksi Nusantara dari luar negeri tetap menjadi prioritas. Pemerintah Indonesia terus melakukan negosiasi dengan sejumlah negara, termasuk Belanda, untuk memulangkan koleksi sejarah yang diambil pada masa kolonial. Sejak Desember 2024, proses pengembalian dilakukan secara bertahap. Sebanyak 272 benda budaya dari Belanda segera dipulangkan, terdiri atas 204 objek dan 68 artefak yang sebelumnya tersimpan di Museum Rotterdam.
“Kita ingin generasi sekarang lebih dekat dengan sejarah dan akar budaya bangsa. Repatriasi ini bukan sekadar simbolik, melainkan langkah penting memulihkan pengetahuan publik,” ujar Fadli.
Selain repatriasi, ia menekankan pentingnya percepatan penetapan status cagar budaya nasional. Dari 4.924 cagar budaya yang tersebar di berbagai daerah, baru 228 yang sudah ditetapkan secara resmi. Menurutnya, percepatan ini akan mendorong perlindungan lebih kuat bagi setiap warisan budaya.
Baca juga:
Fadli Zon juga meninjau Ruang Penyimpanan Koleksi Artefak dan Display Artefak di Gedung Kehati, Kawasan Sains dan Teknologi Ir. Soekarno. Ruang-ruang tersebut menyimpan koleksi yang sedang diteliti dan sudah terdokumentasi lengkap. Koleksi itu meliputi artefak batu beliung, batu pukul, keramik Cina, muatan kapal karam, guci, pot bunga, replika nisan Malik Ibrahim, sarkofagus, hingga manuskrip Hikayat Kutub Mangindra.
Seluruh koleksi akan menjadi bahan literasi dan edukasi bagi masyarakat. “Artefak yang selama ini diam akan kita hidupkan menjadi pusat edukasi dan literasi publik,” tegas Fadli.
Kepala BRIN Laksana Tri Handoko menyambut baik ajakan kolaborasi. Ia memastikan BRIN siap mendukung penelitian berbasis bukti ilmiah agar warisan budaya terlindungi. “Kolaborasi menjadi kunci. Kami mendukung langkah Kementerian Kebudayaan,” kata Handoko.
Ikut hadir Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra, Herry Jogaswara; Plt. Deputi Kebijakan Pembangunan, Anugerah Widiyanto; Direktur Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi, Restu Gunawan; Direktur Warisan Budaya, I Made Dharma Suteja; Kepala Museum Cagar Budaya, Abi Kusno; Staf Khusus Bidang Protokoler dan Rumah Tangga, Rachmanda Primayuda; Staf Ahli Hubungan Antar Lembaga, Ismunandar; serta Kepala Biro Humas dan Informasi Publik, Ibnu Hamad.
Fadli Zon berharap momentum kunjungan ini menjadi titik awal sinergi lebih luas. “Saya ingin kolaborasi kita tak hanya melindungi warisan budaya, tapi juga menjadikannya living library bagi generasi mendatang,” pungkasnya.