Bagikan:

JAKARTA -  Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon menegaskan pentingnya penguatan riset dan studi kebudayaan Indonesia sebagai fondasi pengembangan ilmu pengetahuan dan diplomasi budaya. Dalam kunjungannya ke National Museum of Ethnology (Minpaku) di Osaka, Minggu, 12 Oktober, ia menekankan bahwa Indonesia bukan hanya sumber warisan budaya dunia, tetapi juga pusat pengetahuan yang berperan penting dalam studi budaya dan humaniora global.

“Indonesia memiliki kekayaan budaya luar biasa. Tapi yang tak kalah penting adalah pengetahuan yang lahir dari kebudayaan itu sendiri. Melalui riset dan kerja sama akademik, kita memperdalam pemahaman tentang manusia, sejarah, dan peradaban,” ujar Menteri Kebudayaan Fadli Zon seperti keteranan tertulis yang diterima VOI, Minggu 12 Oktober.

Pertemuan di Minpaku dihadiri akademisi Jepang yang meneliti kebudayaan Indonesia, antara lain Prof. Shota Fukuoka, etnomusikolog yang meneliti musik Sunda; Prof. Rintaro Ono, arkeolog maritim; Dr. Hiroyuki Imamura, peneliti seni bela diri tradisional pencak silat; dan Dr. Masami Okabe, ahli seni tari dan budaya Jawa.

Diskusi berfokus pada kolaborasi riset di bidang etnomusikologi, tari, antropologi maritim, seni bela diri, hingga etnografi Nusantara. Fadli Zon juga memaparkan inisiatif riset yang sedang dijalankan Kementerian Kebudayaan, seperti digitalisasi arsip budaya, kajian situs megalitik Gunung Padang, dan dokumentasi manik-manik Nusantara. Ia menambahkan bahwa Indonesia baru saja menyepakati pengembalian 28.131 fosil Koleksi Dubois dari Belanda sebagai bagian riset prasejarah nasional.

Minpaku sendiri merupakan lembaga riset antropologi dan etnologi terkemuka di Asia, berada di bawah National Institutes for the Humanities (NIHU). Didirikan pada 1974 dan dibuka untuk publik sejak 1977 di kawasan bekas Expo 1970 Osaka, museum ini kini memiliki lebih dari 50 peneliti tetap serta koleksi etnografi dari seluruh dunia.

Dalam kesempatan itu, Fadli Zon juga meninjau pameran “Humans and Boats: Maritime Life in Asia and Oceania” yang menampilkan koleksi perahu dan artefak bahari dari Indonesia, termasuk perahu tradisional dan gambar perahu purba dari gua di Maros dan Muna.

“Koleksi ini menunjukkan bahwa peradaban maritim Nusantara merupakan salah satu yang tertua dan berpengaruh di dunia. Laut bagi Indonesia bukan sekadar sumber daya, tapi ruang budaya dan pengetahuan yang membentuk identitas kita,” ujarnya.

Menteri Kebudayaan juga meninjau pameran tetap bertema “A Day in the Life of Southeast Asia” yang menampilkan kehidupan masyarakat Asia Tenggara, termasuk artefak Indonesia seperti topeng, wayang, batik, dan alat musik tradisional.

Kunjungan ini diharapkan memperkuat jejaring riset budaya Indonesia–Jepang dan membuka kolaborasi lintas disiplin di bidang kebudayaan. “Kerja sama riset ini adalah cara terbaik untuk memperluas pemahaman dunia tentang Indonesia dan menjadikan kebudayaan kita sebagai sumber ilmu pengetahuan yang hidup,” tutup Fadli Zon.