Makin Diminati, Whoosh Telah Layani 10 Juta Penumpang

 

JAKARTA - PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) mencatat 10.014.707 penumpang telah terlayani Kereta Cepat Whoosh, angka tersebut merupakan akumulasi sejak dioperasikan secara komersial pada 17 Oktober 2023. Capaian ini menunjukkan Whoosh semakin diminati masyarakat.

General Manager Corporate Secretary KCIC, Eva Chairunisa menyampaikan puluhan juta penumpang itu dilayani melalui 29.786 perjalanan Whoosh. Capaian tersebut merupakan tonggak sejarah baru dalam perkeretaapian nasional.

“Pencapaian ini menunjukkan antusiasme yang tinggi dari masyarakat terhadap layanan Kereta Cepat Whoosh. Kami mengucapkan terima kasih atas kepercayaan yang telah diberikan oleh masyarakat kepada Whoosh sebagai moda transportasi masa depan,” ujar Eva dalam keterangan resmi, Kamis, 26 Juni.

Eva mengatakan Kereta Cepat Whoosh pertama kali dicanangkan pada tahun 2015, kemudian dilanjutkan dengan peletakan batu pertama pada 2016. Setelah melalui masa konstruksi dan serangkaian uji coba operasional, layanan Whoosh akhirnya diresmikan dan mulai beroperasi secara komersial pada Oktober 2023.

Lebih lanjut, Eva bilang menjadikan Indonesia sebagai negara pertama di Asia Tenggara yang memiliki layanan kereta cepat.

“Keberhasilan ini tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, pemegang saham, hingga seluruh mitra yang terlibat dalam pembangunan dan pengoperasian Whoosh,” tuturnya.

Eva mengatakan jumlah penumpang yang tinggi ini juga menjadi hasil dari berbagai strategi peningkatan layanan dan kemudahan akses transportasi.

“Tanpa adanya integrasi dengan moda transportasi pengumpan seperti kereta feeder, LRT Jabodebek, layanan bus, hingga taksi, capaian 10 juta penumpang ini tentu sulit terwujud,” jelasnya.

Selain itu, sambung Eva, perjalanan panjang pembangunan Whoosh juga menjadi bagian dari proses transfer teknologi dan pengetahuan dari tenaga profesional kepada SDM Indonesia.

Kini, lanjut dia, seluruh operasional Kereta Cepat Whoosh telah sepenuhnya dijalankan oleh SDM Indonesia, mencerminkan kemajuan signifikan dalam penguasaan teknologi tinggi di sektor transportasi nasional.

Dari sisi keberlanjutan dan efisiensi, hasil kajian dari Pusat Pengujian, Pengukuran, Pelatihan, Observasi dan Layanan Rekayasa Universitas Indonesia (Polar UI) menunjukkan bahwa emisi karbon Whoosh hanya sebesar 6,9 gram CO₂ per penumpang-kilometer.

Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan kendaraan pribadi yang menghasilkan sekitar 12,7 gram CO₂ per penumpang-kilometer. Dengan demikian, Whoosh telah berkontribusi terhadap pengurangan emisi karbon hingga 54 persen, sekaligus menekan potensi biaya kecelakaan lalu lintas hingga Rp2,91 miliar per tahun.

“Capaian 10 juta penumpang ini bukan sekadar angka, tetapi simbol nyata kemajuan bangsa dalam menghadirkan moda transportasi modern, ramah lingkungan, dan berstandar tinggi. Ini adalah bukti bahwa Indonesia mampu mewujudkan transformasi besar di sektor transportasi untuk meningkatkan konektivitas dan mobilitas masyarakat,” tutup Eva.