Makan Bergizi Gratis Tetap Aman: Bapanas Perluas Mobil Lab Keliling ke Daerah

BOGOR – Badan Pangan Nasional (Bapanas) bersama Badan Gizi Nasional (BGN) dan Kementerian Koordinator Bidang Pangan melakukan pengecekan keamanan pangan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Megamendung, kawasan Puncak, Kabupaten Bogor, Selasa 24 Juni pagi.

Bapanas turut menyerahkan satu unit mobil laboratorium keliling untuk pengawasan keamanan pangan. Mobil ini dilengkapi berbagai peralatan pengujian cepat (rapid test) yang dapat mendeteksi kandungan pestisida, boraks, hingga formalin pada pangan segar.

Kepala Bapanas Arief Prasetyo Adi menjelaskan, hingga saat ini terdapat puluhan unit mobil laboratorium keliling yang telah beroperasi di sejumlah provinsi. Mobil tersebut berfungsi memeriksa keamanan pangan secara acak di pasar-pasar tradisional.

“Mobil ini kami berikan kepada pemerintah provinsi, ke depan juga bisa untuk kabupaten dan kota. Mobil ini akan berkeliling ke pasar-pasar. Di Jawa Barat dan Jawa Tengah sudah kami distribusikan,” ujar Arief.

Menurutnya, proses pengujian menggunakan alat rapid test hanya memerlukan waktu sekitar 10 hingga 15 menit. Pemeriksaan ini penting, terutama untuk produk strategis seperti ikan yang berisiko mengandung formalin melebihi ambang batas.

“Tujuan utama kami adalah memastikan masyarakat, termasuk penerima program makan bergizi gratis, mengonsumsi makanan yang aman,” katanya.

Arief juga mengungkapkan bahwa tahun lalu terdapat 17 unit mobil yang disebar, dan hingga pertengahan tahun ini jumlahnya meningkat menjadi sekitar 30 unit. Ia berharap distribusi mobil laboratorium keliling ini bisa diperluas ke lebih banyak daerah.

Mobil laboratorium tersebut dilengkapi dengan reagen, lemari pendingin, dispenser, dan berbagai perlengkapan uji lainnya. Alat ini mampu mendeteksi kandungan berbahaya dalam bahan makanan, sehingga pangan yang tidak aman dapat segera dicegah peredarannya.

“Kita harapkan hanya butuh 15 menit untuk tahu pangan mana yang tidak layak dipasarkan. Sudah ada standar ambang residu yang harus dipatuhi,” ujarnya.

Dalam catatan Bapanas, hasil pengawasan pangan segar sepanjang tahun 2024 menunjukkan bahwa dari 13.489 sampel yang diuji secara nasional, sebanyak 6,43 persen positif mengandung cemaran bahan berbahaya seperti formalin, boraks, dan pestisida melebihi ambang batas.

Temuan terbanyak berasal dari produk ikan segar, sayuran, dan jajanan pasar. Pemeriksaan dilakukan secara acak di pasar tradisional, distribusi lokal, dan sentra produksi pangan.

“Ini menunjukkan bahwa pengawasan harus terus diperkuat, terutama di daerah-daerah produsen. Jangan sampai pangan berbahaya terlanjur beredar luas,” kata Arief.

Ia juga mendorong kepala daerah untuk aktif memanfaatkan fasilitas ini dengan membuat jadwal rutin pemeriksaan pasar secara mobile.

“Saya minta mobil ini digunakan keliling pasar. Satu hari bisa kunjungi beberapa pasar. Mobilitas ini bisa dikontrol oleh gubernur, bupati, atau wali kota di masing-masing daerah,” ucapnya.