China Dilaporkan Miliki 600 Hulu Ledak Nuklir, Kementerian Luar Negeri Tepis Perlombaan Senjata

JAKARTA - China mengatakan menjaga kemampuan nuklirnya pada tingkat minimum dan tidak pernah terlibat dalam perlombaan senjata, saat jumlah hulu ledak nuklir negara itu dilaporkan bertambah.

China kemungkinan meningkatkan hulu ledak nuklirnya pada tahun 2024 sebanyak 100 buah menjadi 600, menurut lembaga pemikir keamanan internasional pada Hari Senin.

Jumlah hulu ledak nuklir secara global sedikit menurun menjadi 12.241 menurut Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) dalam laporan tahunannya, namun mengkhawatirkan "perlombaan senjata nuklir baru yang berbahaya sedang muncul."

Rusia dilaporkan sebagai pemilik hulu ledak nuklir terbesar, mencapai 5.459 buah, disusul Amerika Serikat dengan. 5.177 hulu ludah, menjadikan keduanya menguasai sekitar 90 persen hulu ledak nuklir di dunia, kata laporan itu, seperti melansir Kyodo News 16 Juni.

Sementara itu, Korea Utara diperkirakan memiliki sekitar 50 hulu ledak nuklir pada Bulan Januari, sama seperti tahun lalu, dan cukup bahan fisil untuk memproduksi hingga 40 hulu ledak lagi.

Di sisi lain, Israel dilaporkan memiliki 90 hulu ledak nuklir meski negara itu tidak secara terbuka mengakui kepemilikannya.

Terpisah, Tiongkok mengatakan pihaknya selalu berpegang pada strategi nuklir untuk membela diri dan tidak berpartisipasi dalam perlombaan senjata apa pun, sebagai tanggapan atas laporan yang menyebutkan pertambahan hulu ledak nuklirnya, dikutip dari China Daily.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Guo Jiakun mengatakan dalam jumpa pers harian, Negeri Tirai Bambu tidak akan mengomentari laporan tersebut.

Ia menekankan, Tiongkok selalu mempertahankan kekuatan nuklirnya pada tingkat minimum yang diperlukan untuk keamanan nasional, tetap berkomitmen kuat untuk menjaga kepentingan keamanannya yang sah dan untuk menjaga perdamaian dan stabilitas dunia.

Ditambahkannya, Tiongkok menjunjung tinggi kebijakan tidak akan menggunakan senjata nuklir terlebih dahulu, dalam kondisi apa pun dan kapan pun, dan telah membuat komitmen tanpa syarat untuk tidak menggunakan atau mengancam akan menggunakan senjata nuklir terhadap negara-negara yang tidak memiliki senjata nuklir dan zona bebas senjata nuklir, menjadikan Tiongkok satu-satunya negara pemilik senjata nuklir yang mengadopsi kebijakan semacam itu.