Konflik Israel dan Iran Memanas, Ancam Lonjakan Beban Impor Energi Indonesia
JAKARTA - Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menjelaskan Konflik Israel-Iran memiliki potensi besar untuk meningkatkan volatilitas pasar global, khususnya melalui lonjakan harga minyak dunia.
"Berdasarkan analisis historis yang disampaikan dalam dokumen tersebut, konflik di Timur Tengah yang melibatkan negara-negara besar penghasil atau yang berdekatan dengan jalur distribusi minyak berisiko mendorong kenaikan harga minyak mentah," katanya kepada VOI, Senin, 16 Juni.
Josua menyampaikan peningkatan tajam harga minyak ini akan berdampak langsung terhadap stabilitas pasar keuangan global melalui peningkatan inflasi, peningkatan biaya produksi, serta pengurangan margin profit perusahaan di berbagai sektor, khususnya energi dan transportasi.
Menurutnya dampak langsung dari konflik di Timur Tengah ini terhadap pasar keuangan Indonesia akan terlihat dalam tekanan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS.
Ia menjelaskan sebagai negara net-importer minyak, Indonesia akan menghadapi peningkatan beban impor yang secara signifikan bisa memperbesar defisit transaksi berjalan, sehingga menciptakan tekanan depresiasi pada Rupiah.
"Kondisi ini akan memengaruhi sentimen pasar domestik, meningkatkan risiko capital outflow, serta memperlambat pertumbuhan ekonomi karena dampak lanjutan dari kenaikan inflasi," jelasnya.
Menurutnya dari sisi ekspor-impor, eskalasi konflik Israel-Iran dapat mengganggu jalur pelayaran di kawasan Timur Tengah, terutama Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia.
Ia menambahkan bahwa gangguan di jalur ini tidak hanya berdampak pada kenaikan biaya impor energi Indonesia tetapi juga memperlambat rantai pasokan global.
"Sebagai implikasi lanjutan, ekspor Indonesia terutama komoditas manufaktur yang sangat bergantung pada pasar global akan menghadapi hambatan akibat perlambatan ekonomi dunia dan peningkatan biaya logistik internasional," tuturnya.
Baca juga:
Josua menyampaikan bahwa untuk mitigasi dampak ini, ke depannya Indonesia harus secara proaktif mengamankan kontrak energi jangka panjang dengan sumber alternatif di luar kawasan konflik.
Selain itu, ia menambahkan bahwa diversifikasi ekspor ke pasar non-tradisional serta penguatan pasar domestik harus terus didorong agar ekonomi Indonesia memiliki daya tahan lebih baik menghadapi guncangan eksternal semacam ini.
"Kebijakan moneter dan fiskal yang tepat dari pemerintah dan Bank Indonesia, terutama melalui instrumen stabilisasi nilai tukar dan kebijakan penanggulangan inflasi, juga akan menjadi kunci untuk menjaga stabilitas ekonomi dalam jangka menengah hingga panjang," pungkasnya.