Begini Strategi PIS Jawab Tantangan Industri Perkapalan dan Logistik Global
JAKARTA - PT Pertamina Trans Kontinental (PTK) anak usaha Pertamina Internasional Shipping (PIS) mengungkapkan sejumlah tantangan yang dihadapi dalam industri perkapalan dan logistik.
Presiden Direktur PTK, I Ketut Laba mengatakan, sejatinya pertumbuhan permintaan kapal bakal terus meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi sekitar 5 persen dan pertumbuhan permintaan minyak 4,5 persen serta volume pengangkutan minyak tumbuh secara bertahap sebesar 5 persen. Kendati demikian, peningkatan demand diprediksi akan lebih lambat dibandingkan dengan peremajaan armada kapal.
Meski demikian, Pertamina kata Ketut tetap akan melakukan peremajaan atau penambahan kapal-kapal yang lebih muda. Tujuannya tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan domestik tapi juga untuk bisa bersaing di bisnis perkapalan Internasional. Ketut menjelaskan, saat ini Pertamina masih mengoperasikan kapal yang berusia di atas 25 tahun
"Kami Pertamina menyusun strategi dengan memperbanyak armada, memperbaharui armada secara bertahap. Saat ini, masalahnya adalah penuaan armada," ujarnya yang dikutip Senin, 2 Juni.
Pertamina, kata Ketut, juga secara konsisten juga terus memperbaharui digitalisasi sistem perkapalan untuk hasilkan efisiensi operasional, manajemen pemeliharaan serta penerapan teknologi hemat energi termasuk pembersihan lambung kapal.
Baca juga:
"Kami juga studi penggunaan bahan bakar ramah Lingkungan. Pertamina menjajaki penggunaan bahan bakar alternatif seperti biofuel, metanol, hidrogen, dan amonia untuk mengurangi emisi dan mendukung target dekarbonisasi industri pelayaran," jelas Ketut.
Ia juga memastikan kemitraan strategis juga dibangun bersama dengan perusahaan pelayaran global, pemilik kapal, pengelola kapal, dan pengelola awak kapal.
Selain itu PIS meningkatkan kemampuan sumber daya manusia melalui pelatihan dan pengembangan kompetensi merupakan salah satu pilar dalam strategi efisiensi dan pertumbuhan perusahaan.
"Ekosistem industri pelayaran yang menyediakan sistem pendukung untuk mengurangi waktu tunggu di pelabuhan, waktu perbaikan, dan biaya," tandas Ketut.