Transformasi Jamu Tradisional Menuju Industri Herbal Berstandar Global

JAKARTA - Indonesia memiliki warisan luar biasa dalam bentuk jamu, ramuan tradisional yang telah digunakan turun-temurun sebagai pengobatan alami.

Kekayaan hayati Indonesia yang melimpah, dengan ribuan tanaman obat asli, menjadikan negeri ini sebagai salah satu pusat potensi herbal terbesar di dunia.

Di tengah tren global menuju gaya hidup sehat dan alami, jamu tidak hanya dipandang sebagai tradisi, tetapi juga peluang besar dalam pengembangan industri kesehatan dan kecantikan yang berkelanjutan. Kolaborasi antara budaya dan ilmu pengetahuan menjadi kunci untuk menjadikan jamu sebagai produk modern yang tetap berakar pada nilai-nilai lokal.

Dr. Sofa Fajriah, Kepala Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional BRIN, menekankan bahwa pengembangan jamu modern harus didorong oleh sinergi antara riset ilmiah dan kekayaan budaya nusantara. Menurutnya, jamu tidak sekadar obat tradisional, tetapi juga representasi kearifan lokal yang harus terus dikembangkan secara inovatif.

“Kosme menjadi contoh bagaimana riset dan budaya dapat berjalan seiring, menciptakan produk yang modern namun tetap sarat nilai tradisional,” ujar Sofa seperti dikutip ANTARA.

Berbagai inovasi yang muncul dalam sektor ini mencakup jamu siap konsumsi, kombinasi jamu dengan superfood, serta integrasi dengan probiotik dan bahan aktif kosmetik dalam produk perawatan tubuh. Tak hanya itu, jamu kini hadir dalam bentuk yang lebih menarik dan dekat dengan generasi muda, seperti sparkling herbal, boba herbal, hingga gummy herbal.

Berdasarkan riset dari Tim CMI, industri obat tradisional di Indonesia diprediksi akan tumbuh pesat dengan laju CAGR 7,1 persen selama 2024 hingga 2033. Nilai pasarnya bahkan diproyeksikan mencapai 25,4 miliar dolar AS di akhir periode tersebut.

Perubahan preferensi konsumen juga semakin nyata. Sekitar 56 persen generasi muda mengaku tertarik mengonsumsi jamu jika dikemas dengan praktis. Di sisi lain, laporan WHO menunjukkan bahwa 70 persen populasi global kini lebih memilih produk herbal dan alami, terutama setelah pandemi COVID-19.

Dengan lebih dari 30.000 spesies tanaman, di mana sekitar 7.500 memiliki manfaat pengobatan, Indonesia menempati posisi penting sebagai pusat pengembangan herbal dunia. Ini menjadi peluang besar untuk menempatkan jamu sebagai produk unggulan nasional yang mendunia.

Shandy Purnamasari, pendiri Kosme Health, menyampaikan bahwa jamu harus direpresentasikan dalam wujud yang lebih modern dan diterima oleh generasi baru. “Kami ingin jamu hadir dalam format yang lebih menyenangkan, tanpa mengurangi khasiatnya,” ujarnya.

Kosme Health juga memberikan dukungan kepada pelaku UMKM dengan membuka layanan maklon, yaitu jasa pembuatan produk jamu secara efisien dengan standar kualitas tinggi.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Jamu Indonesia, Jony Yuwono, menyambut baik inisiatif ini. Ia menekankan jamu bukan sekadar produk, melainkan bagian dari filosofi hidup yang mencerminkan kesatuan antara pengobatan, doa, dan budaya lokal.

Menurutnya, pendekatan kreatif seperti ini bisa memperkuat kolaborasi lintas pelaku usaha di sektor herbal. Dr. Sofa menambahkan riset memiliki peran vital dalam menggali dan memaksimalkan potensi kekayaan alam tersebut.

“Kami berharap semakin banyak inovasi di bidang ini, sehingga Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga pemain utama dalam produksi herbal berkualitas internasional,” ungkapnya.

Pemerintah pun menunjukkan dukungan konkret melalui pendanaan riset, hibah untuk UMKM, hingga fasilitasi ekspor, demi mendorong daya saing industri jamu dan herbal nasional di kancah global.