Bagikan:

JAKARTA - Di tengah laju modernisasi yang begitu cepat, budaya dan tradisi sering kali terpinggirkan. Meski begitu, seiring berkembangnya zaman, jamu tetap bertahan sebagai warisan budaya Nusantara yang mengakar kuat.

Jamu adalah seni sekaligus ilmu, yang sejak ratusan tahun lalu menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat. Dari desa hingga kota, dari pasar tradisional hingga kafe modern, jamu terus menemukan jalannya.

Proses pembuatan jamu bukan sekadar meracik bahan. Terdapat perjalanan panjang yang melibatkan hati, keterampilan, dan pengetahuan mendalam tentang tanaman obat. Seperti yang diceritakan oleh Jono Yuwono, CEO PT Sinde Budi Sentosa.

"Pembuat jamu membuat jamu dari menumbuk beras, menghancurkan kunyit, kencur direbus, ditiris," ujarnya dari keterangan resmi.

Setiap tahap pengerjaan membutuhkan ketelitian dan kesabaran untuk memastikan semua khasiat alami tetap terjaga. Bahkan dalam sehari, para perempuan pembuat jamu tidak hanya meracik satu atau dua jenis, melainkan berbagai macam jamu sesuai kebutuhan masyarakat.

"Dalam sehari mereka enggak bikin satu dua racikan, setiap hari buat racikan bisa 3–6, beras kencur, kunyit asam, pahitan, jahe, dan lain-lain. Itu disaring dan masukkan dalam botol satu liter. Ketika masuk dalam bakul, bisa bayangkan satu bakul beratnya 6 kg-11 kg," tambah Jono.

Beban berat itu mereka pikul dengan penuh semangat, berjalan dari satu tempat ke tempat lain untuk menyebarkan manfaat jamu kepada masyarakat.

Acaraki Jamu Festival 2025 menggelar acara Fun Walk 2,5K dengan membawa bakul jamu, Kreasi Jamu Gendong oleh komunitas Laskar Jamu Gendong, serta Free Flow Jamu Booth yang memungkinkan pengunjung menikmati berbagai jenis jamu secara gratis.

Dalam rangka menyambut Hari Kartini dan sebagai bagian dari peringatan Dasa Windu (80 Tahun Indonesia), Acaraki Jamu Festival menyelenggarakan festival yang mengusung tema #TerbitlahTerang di kawasan bersejarah Kota Tua Jakarta pada 27 April 2025. Festival ini merepresentasikan semangat pembaruan dan pelestarian kearifan lokal melalui jamu.

"Ketika para peserta berjalan berdampingan dengan mereka, harapan mereka bisa melihat secara nyata perjuangan mereka. Dalam kondisi ekonomi apa pun, mereka tetap berjalan," kata Jono.

Upaya mengenalkan jamu kepada generasi muda dan masyarakat urban terus dilakukan melalui berbagai cara kreatif. Festival-festival seperti Acaraki Jamu Festival menjadi ruang penting untuk menyemai kembali kecintaan terhadap jamu. Festival ini bukan hanya tentang mencicipi minuman tradisional, melainkan sebuah perjalanan edukasi tentang filosofi, sejarah, dan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam setiap tegukannya.

Momentum penting bagi dunia jamu datang pada tahun 2023, ketika UNESCO secara resmi mengakui jamu Indonesia sebagai Warisan Budaya Tak Benda Dunia dalam kategori praktik kesehatan tradisional.

Pengakuan ini menjadi bukti bahwa jamu bukan hanya berharga di Indonesia, tetapi juga diakui dunia sebagai solusi kesehatan berbasis kearifan lokal yang relevan di masa kini. Dengan prinsip pencegahan penyakit, keseimbangan tubuh, dan penggunaan bahan alami, jamu menawarkan pendekatan holistik yang semakin dibutuhkan di tengah tantangan kesehatan global modern.

Tak heran, berbagai inovasi kini bermunculan untuk mengemas jamu dalam bentuk yang lebih menarik dan sesuai selera masa kini, tanpa meninggalkan akar tradisinya. Di sisi lain, komunitas-komunitas budaya dan pelaku UMKM turut aktif menjaga kelestarian jamu dengan berbagai kreasi baru, mulai dari jamu kemasan, kafe jamu, hingga workshop meracik jamu untuk anak muda.