Menlu Faisal: AS-Arab Saudi Sepakat Mengakhiri Perang Gaza dan Membebaskan Semua Sandera
JAKARTA - Menteri Luar Negeri Pangeran Faisal bin Farhan Al-Saud mengatakan, Arab Saudi dan Amerika Serikat "sepakat mengakhiri perang di Gaza dan membebaskan semua sandera", saat berbicara kepada wartawan setelah pertemuan puncak Teluk.
Ia mengatakan, Pemerintah AS bersedia membuat "keputusan yang sangat berani" untuk mendorong gencatan senjata di Gaza, dan "membuka jalan untuk menyelesaikan masalah Palestina yang lebih luas," termasuk "bergerak menuju, yang diharapkan, negara Palestina," menurut laporan New York Times, seperti melansir The Times of Israel 14 Mei.
Di sisi lain, Negeri Paman Sam tidak mengeluarkan pernyataan serupa terkait perjanjian apa pun yang dicapai dengan Saudi tentang perang di Gaza.
Pangeran Faisal juga mengatakan, "Kita perlu mencapai gencatan senjata di Gaza sesegera mungkin," menambahkan "tanpa gencatan senjata di Gaza, akan sulit untuk memasok bantuan" ke daerah kantong itu.
Diketahui, konflik terbaru di Jalur Gaza pecah saat kelompok militan Palestina yang dipimpin Hamas menyerang wilayah selatan Israel pada 7 Oktober 2023, menewaskan 1.200 orang dan 251 lainnya disandera, menurut perhitungan Israel seperti dikutip dari Reuters.
Sebagai tanggapan, Israel melakukan blokade, serangan udara, hingga operasi militer di Jalur Gaza.
Kedua belah pihak sempat melakukan gencatan senjata pada 19 Januari hingga 18 Maret lalu, serta pertukaran sandera dan tahanan di kedua belah pihak. Israel melanjutkan kembali serangannya usai berakhirnya gencatan senjata.
Baca juga:
- Pejabat PBB Mengecam Rencana Distribusi Bantuan di Gaza yang Diusulkan Israel
- Menlu Araghchi Kritik Pernyataan Presiden AS Trump Soal Iran
- Utusan Presiden AS Sebut Ada Peluang Lebih Baik untuk Pembebasan Sandera di Gaza
- Presiden Trump Berencana Cabut Sanksi Terhadap Suriah, Temui Presiden Al-Sharaa di Arab Saudi
Sementara itu, sumber medis di Gaza pada Hari Rabu mengonfirmasi jumlah korban tewas Palestina sejak Oktober 2023 telah mencapai 52. 928 jiwa dan 119.846 lainnya luka-luka, mayoritas anak-anak dan perempuan, dikutip dari WAFA.
Menurut sumber yang sama, jumlah korban tewas sejak dimulainya kembali genosida Israel pada 18 Maret setelah gencatan senjata selama dua bulan juga telah meningkat menjadi 2.799, dengan hampir 7.805 dilaporkan terluka.