Presiden Prancis Dukung Sanksi Baru ke Rusia Jika Putin Tolak Gencatan Senjata Ukraina

JAKARTA - Presiden Prancis Emmanuel Macron mendukung penerapan sanksi baru terhadap Rusia dalam beberapa hari mendatang jika Moskow gagal menyetujui gencatan senjata, dengan menyebutkan layanan keuangan serta minyak dan gas sebagai target.

"Tujuan kami adalah untuk menerapkan sanksi baru terhadap Rusia dalam beberapa hari mendatang jika Moskow menolak untuk melaksanakan gencatan senjata,” kata Macron dalam wawancara utama di TF1 dilansir Reuters, Selasa, 14 Mei.

"Kami sedang berkoordinasi dalam hal ini,” imbuh dia.

Pernyataan Macron menggemakan pernyataan Kanselir Jerman Friedrich Merz yang mengatakan sekutu Eropa akan memberlakukan "pengetatan sanksi yang signifikan" terhadap Rusia jika Presiden Vladimir Putin tidak menyetujui gencatan senjata.

Merz juga menyebutkan sektor-sektor termasuk energi dan pasar keuangan sebagai target yang mungkin.

Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot mengatakan pada Senin, Komisi Eropa sudah diminta untuk mengusulkan sanksi baru di bidang-bidang tersebut.

Para pemimpin Inggris, Prancis, Jerman, dan Polandia mengatakan pada Sabtu, Rusia akan dikenai tindakan hukuman baru jika tidak mengindahkan seruan untuk gencatan senjata selama 30 hari dalam beberapa hari.

Janji itu gagal menggerakkan Putin, yang malah menyerukan perundingan langsung dengan Ukraina di Istanbul pada 15 Mei. Presiden AS Donald Trump mendukung seruan itu, yang melemahkan upaya para pemimpin Eropa untuk menunjukkan Trump benar-benar mendukung ancaman mereka.

Para diplomat mengatakan setelah 16 paket sanksi dijatuhkan kepada Rusia oleh UE atas perang di Ukraina, semakin sulit untuk mencapai suara bulat yang diperlukan di antara 27 anggota blok itu untuk meloloskan langkah-langkah baru yang penting.