Begini Jurus Kemenperin Bikin Industri Kecil dan Menengah Tembus Pasar Global
JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendukung dan mengupayakan pelaku industri kecil dan menengah (IKM) untuk dapat naik kelas hingga mampu menembus pasar global.
Salah satu strategi yang dilaksanakan adalah pengoptimalan nilai budaya untuk pengembangan daya saing industri kreatif nasional yang unik dan beridentitas.
Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin Reni Yanita mengungkapkan, Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya dan sumber daya manusia kompeten, sehingga peluang ini sudah sepatutnya dimaksimalkan untuk meraih peluang ekspor bagi pelaku IKM kreatif.
Hal ini tercermin dari banyaknya pelaku usaha ekonomi kreatif yang menurut laporan Statistik Ekonomi Kreatif 2020 Badan Pusat Statistik (BPS), diperkirakan mencapai 16 juta orang.
Sementara berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, subsektor kriya dan fesyen termasuk sebagai kontributor terbesar dari sektor ekonomi kreatif, baik dari sisi nilai tambah ekonomi maupun capaian ekspor.
"Sehingga, industri fesyen dan kriya yang banyak digeluti oleh pelaku IKM perlu untuk terus dikembangkan dan didorong kemampuannya," ujar Reni seperti dikutip dari keterangan tertulisnya, Selasa, 13 Mei.
Reni mengatakan, industri fesyen dan kriya memiliki potensi pasar ekspor dengan prospek cukup menjanjikan.
Produk industri kreatif Indonesia terbukti diminati pasar internasional.
"Kami mendukung IKM melalui berbagai program, seperti pameran internasional, peningkatan manajemen, standardisasi produk hingga restrukturisasi mesin dan peralatan," katanya.
Menurut Reni, salah satu upaya yang telah dilakukan pihaknya adalah melalui program restrukturisasi mesin dan peralatan bagi IKM, yang merupakan fasilitasi pengembalian dana (reimbursement) sebesar 25-40 persen dari harga pembelian mesin dan alat produksi baru oleh IKM.
Dengan program ini, IKM menjadi terbantu permodalannya dan mendapatkan insentif untuk meremajakan mesin dan peralatan.
"Mesin yang telah dibeli pun dapat meningkatkan kualitas, kapasitas maupun varian produk yang dihasilkan serta dana yang dikembalikan dapat dialokasikan untuk pembelian mesin pendukung maupun keperluan bisnis lainnya," ucap dia.
Dia pun menekankan pentingnya pemanfaatan nilai budaya dalam strategi ekspor.
Produk yang mengangkat kekayaan budaya lokal secara otentik memiliki daya tarik tersendiri bagi konsumen global.
"Terlebih bila nilai budaya tersebut mampu berakulturasi dengan budaya luar tanpa meninggalkan ciri khas Indonesia, tentunya hal ini menarik dan bisa turut mempromosikan nilai-nilai khas Indonesia di dunia internasional," terang Reni.
Reni menambahkan, salah satu contoh keberhasilan ini ditunjukkan oleh IKM Sweda yang merupakan IKM perajin perak asal Kotagede, Bantul, Yogyakarta.
Sweda merupakan salah satu penerima fasilitasi program restrukturisasi mesin dan peralatan pada 2024.
Sweda mengajukan reimbursement atas pembelian mesin 3D printer untuk mendukung proses desain dan produksi aksesoris custom secara lebih presisi dan efisien.
Sweda menggabungkan filosofi budaya Indonesia dengan elemen budaya populer Amerika Serikat pada produknya, sehingga berhasil mengekspor 90 persen produknya ke negara tersebut.
Baca juga:
Melalui program restrukturisasi mesin dan peralatan, Sweda melakukan modernisasi mesin dan peralatan lini produksinya, sehingga menjadi lebih efisien dalam memenuhi permintaan produk custom dan daya saingnya pun meningkat.
"Dengan dukungan teknologi lebih modern, pelaku IKM diharapkan dapat meningkatkan kualitas produk, efisiensi produksi dan akses pasar lebih luas, termasuk pasar ekspor," ungkapnya.
Selain peningkatan kapasitas dan kualitas, lanjut dia, Kemenperin juga menekankan pentingnya pelaku IKM untuk dapat memperluas jejaring demi mendapatkan berbagai wawasan baru dan akses ke segmen pasar yang mau membeli hasil produksinya.