Kasus Kanker Anus Meledak di Kalangan Perempuan AS, Kenali Penyebab dan Cara Mencegahnya

JAKARTA - Kanker anus, salah satu jenis kanker sistem pencernaan yang tergolong langka, kini mengalami lonjakan tajam di kalangan perempuan lanjut usia di Amerika Serikat.

Peningkatan signifikan tercatat terutama pada perempuan kulit putih dan hispanik.

Hispanik adalah istilah yang digunakan untuk merujuk pada keturunan atau latar belakang dari Spanyol. Padahal, kelompok tersebut sebelumnya jarang dikaitkan dengan jenis kanker ini.

Hal ini terungkap dalam sebuah studi terbaru yang dipresentasikan dalam ajang Digestive Disease Week (DDW) 2025.

Kelompok yang diketahui lebih rentan terhadap kanker ini meliputi penderita HIV, pria dari komunitas LGBTQ, penerima transplantasi organ, serta perempuan dengan riwayat kanker vulva atau kondisi prakanker.

Dalam studi ini, para peneliti menganalisis data dari National Cancer Institute selama periode 2017 hingga 2021 dan menemukan tren yang mengkhawatirkan. Dalam lima tahun tersebut, kasus kanker anus meningkat sebesar 2,9% pada perempuan dan 1,6% pada laki-laki.

Hal paling mengejutkan, lonjakan ini justru terjadi di kalangan perempuan kulit putih dan hispanik, kelompok yang selama ini tidak dianggap berisiko tinggi terhadap kanker anus.

“Kasus kanker anus meningkat paling cepat di kalangan perempuan kulit putih dan Hispanik berusia di atas 65 tahun, kelompok yang tidak dianggap berisiko tinggi,” ungkap penulis utama studi ini, Dr. Ashley Robinson, residen di bidang penyakit dalam di Advocate Lutheran General Hospital, dikutip dari laman Times of India.

Dalam laporannya, disebutkan bahwa perempuan kulit putih berusia di atas 65 tahun mengalami lonjakan terbesar, yakni peningkatan 4,3% dalam lima tahun, dengan jumlah kasus mencapai 11,4 per 100.000 orang pada tahun 2021. Sementara itu, perempuan hispanik di usia yang sama mencatatkan 7,5 kasus per 100.000, dengan peningkatan tahunan lebih bertahap sebesar 1,7%.

Para peneliti memperingatkan bahwa jika tren ini terus berlanjut, jumlah kasus kanker anus pada perempuan di atas 65 tahun bisa saja berlipat ganda dalam waktu kurang dari 17 tahun.

Seperti diketahui, kanker anus berkembang di jaringan atau lapisan saluran anus, jalur yang menghubungkan anus dengan rektum, bagian bawah dari sistem pencernaan. Jika dideteksi dan diobati pada tahap awal, kanker ini sangat mungkin untuk disembuhkan.

Gejala kanker anus antara lain perdarahan rektal, terutama saat buang air besar, benjolan atau massa di sekitar anus, rasa sakit, perubahan pola buang air besar, kebocoran tinja, hingga rasa ingin buang air besar terus-menerus.

Meski penyebab pastinya belum diketahui, sekitar 90% kasus kanker anus berkaitan dengan infeksi human papillomavirus (HPV) jenis tertentu. Namun, mayoritas orang yang terinfeksi HPV tidak mengembangkan kanker anus.

Mengapa Kasus Kanker Anus Meningkat di Kalangan Perempuan Lanjut Usia?

Vaksin HPV disetujui oleh FDA pada tahun 2006 dan awalnya direkomendasikan bagi individu berusia 9 hingga 26 tahun, dengan tujuan untuk diberikan sebelum individu berisiko terpapar HPV melalui aktivitas seksual.

Peningkatan kasus kanker anus pada perempuan di atas 65 tahun diduga karena mereka berada di luar rentang usia yang direkomendasikan saat vaksin ini mulai tersedia secara luas.

“Meski alasan pasti dari tren ini masih belum jelas, sebagian besar perempuan lansia berada di luar usia yang direkomendasikan untuk vaksinasi HPV ketika vaksin ini mulai tersedia,” jelas Dr. Robinson.

Cara Mengendalikan Lonjakan Kasus

Seperti halnya kanker lainnya, tidak ada cara yang sepenuhnya menjamin pencegahan kanker anus. Namun, risiko dapat dikurangi dengan tidak merokok, menerapkan hubungan seks yang aman, dan yang terpenting mendapatkan vaksin HPV jika termasuk dalam kelompok yang memenuhi syarat.

Vaksin HPV tidak hanya mencegah kanker anus, tetapi juga berbagai jenis kanker lainnya seperti kanker mulut dan tenggorokan, kanker serviks, dan kanker penis.

“Penting bagi kita untuk mempromosikan vaksinasi HPV sebagai alat utama dalam mencegah kanker anus, sekaligus terus memperbarui informasi bagi tenaga kesehatan seiring berkembangnya pedoman skrining,” kata Dr. Robinson.

"Temuan ini menyoroti kelompok pasien tertentu yang mungkin mendapat manfaat dari skrining HPV anus dan kanker anus secara lebih terarah." lanjutnya.