Pakistan Kekurangan Amunisi Artileri, Tak Siap Perang Panjang dengan India

JAKARTA - Pakistan sedang bergulat menutup celah kekurangan amunisi artileri di tengah hubungannya yang makin mendidih dengan India. 

Mengutip Hindustan Times, Minggu 4 Mei, seorang sumber mengatakan kepada kantor berita India, ANI, bahwa Angkatan Darat (AD) Pakistan hanya memiliki amunisi untuk 96 jam jika pertempuran terjadi. 

Kekurangan perangkat perang tersebut berasal dari transfer senjata Pakistan baru-baru ini ke Ukraina, khususnya ekspor peluru artileri 155mm - yang penting bagi pasukan artileri berat Pakistan. 

Sumber tersebut menambahkan, ekspor senjata militer Pakistan itu, dilakukan di tengah melonjaknya permintaan global dan kontrak yang menguntungkan.

Akibatnya, cadangan strategis militer Pakistan terkuras, sehingga howitzer M109 dan sistem roket BM-21 yang menjadi andalan negara itu kekurangan stok.

Pakistan Ordnance Factories (POF), produsen amunisi utama negara itu, menyatakan tidak mampu memenuhi permintaan pasokan ulang karena infrastruktur yang sudah ketinggalan zaman dan kapasitas produksi yang terbatas. 

Seorang pejabat POF yang memahami masalah tersebut mengatakan kepada ANI, POF komitmen memenuhi kebutuhan militer dalam negeri, tetapi perusahaan itu kesulitan melakukannya dalam kondisi saat ini.

Ilustrasi prajurit artileri menggunakan sistem roket artileri mobilitas tinggi atau HIMARS untuk membantu serangan pasukan yang berada di garis depan. (Lauren Whitney-defenseimagery.mil.-commons.wikimedia.org)

Sebelumnya, eks Kepala AD Pakistan Jenderal Qamar Javed Bajwa telah memperingatkan negaranya tentang kapasitas terbatas untuk peperangan berkelanjutan. Dia menyebutkan, kendalanya pada ekonomi dan logistik.

Menurut ANI, krisis ekonomi yang sedang berlangsung di Pakistan - ditandai dengan inflasi yang meroket, meningkatnya utang, dan menipisnya cadangan devisa - telah memaksa militer untuk menangguhkan latihan, mengurangi jatah, bahkan berpotensi membatalkan latihan perang yang telah dijadwalkan karena kekurangan bahan bakar. 

Meski demikian, Pakistan telah melakukan sejumlah persiapan jika pertempuran dengan India terjadi. 

Berdasarkan laporan intelijen India, Pakistan mulai membangun depot amunisi baru di wilayah dekat perbatasan India. Namun, tanpa persediaan yang cukup untuk mengisinya, para analis berpendapat, tindakan tersebut tidak memiliki nilai strategis.

“Pakistan telah mengirim amunisinya mendekati titik perang, hanya untuk mendapati dirinya terdampar, persenjataannya kosong, dan pertahanannya goyah,” kata seorang analis pertahanan senior kepada kantor berita India, ANI.

“Mengejar keuntungan ekonomi jangka pendek telah menimbulkan luka strategis jangka panjang,” sambungnya.

India-Pakistan saling bersitegang setelah kelompok militan bersenjata membunuh 26 orang di wilayah Jammu dan Kashmir yang dikuasai India pada 22 April.

Menurut intelijen India, serangan itu dilakukan Lashkar-e-Taiba atas keterlibatan Intelijen Antar-Layanan Pakistan (ISI) 

Namun, kelompok militan Resistance Front telah mengaku bertanggung jawab atas serangan di wilayah yang disengketakan India dan Pakistan tersebut.

India yang berang tetap menyalahkan Pakistan kemudian meresponsnya dengan menerapkan sejumlah kebijakan merugikan. Pakistan juga tidak berdiam diri dengan membalasnya melalui kebijakan yang menyudutkan.