JAKARTA - Pakistan menyatakan siap untuk berunding dengan musuh bebuyutannya, India. Kedua belah pihak menggunakan jet tempur, rudal, pesawat tanpa awak, dan artileri bulan lalu dalam bentrokan selama empat hari.
Peristiwa itu menjadi pertempuran terburuk kedua negara dalam beberapa dekade, sebelum gencatan senjata yang menurut AS ditengahi pada tanggal 10 Mei. India membantah adanya peran pihak ketiga dalam gencatan senjata tersebut.
"Kapan pun mereka meminta dialog, di tingkat apa pun, kami siap tetapi kami tidak putus asa," kata Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar dalam konferensi pers di Islamabad dilansir Reuters, Rabu, 4 Juni.
Percikan pertikaian itu adalah serangan pada 22 April di Kashmir India yang menewaskan 26 orang, kebanyakan dari mereka adalah turis.
New Delhi menyalahkan insiden itu pada "teroris" yang didukung oleh Pakistan, tuduhan yang dibantah oleh Islamabad.
Dar mengatakan Pakistan menginginkan dialog yang komprehensif tentang berbagai isu termasuk air, sedangkan India hanya ingin fokus pada terorisme.
"Itu tidak mungkin. Tidak ada yang lebih serius daripada kita. Dibutuhkan dua orang untuk berdansa tango," katanya, merujuk pada pernyataan Menteri Luar Negeri India Subrahmanyam Jaishankar yang menyebut pembicaraan seharusnya hanya mencakup isu terorisme.
BACA JUGA:
New Delhi sebelumnya mengatakan satu-satunya masalah yang tersisa untuk dibahas dengan Pakistan adalah pelepasan apa yang India gambarkan sebagai wilayah yang dikuasai Pakistan di Kashmir - wilayah Himalaya yang disengketakan yang diklaim sepenuhnya oleh kedua negara tetapi hanya dikuasai sebagian.
Pakistan sangat ingin membahas hak atas air setelah India "menunda" Perjanjian Perairan Indus menyusul serangan 22 April. Perjanjian tersebut menjamin air untuk 80% pertanian Pakistan dari tiga sungai yang mengalir dari India.