Data Kesehatan Pribadi Mungkin Telah Digunakan Google untuk Iklan: Ini yang Terjadi

JAKARTA – Kasus kebocoran data sensitif kembali mencuat. Kali ini, giliran Blue Shield of California yang mengonfirmasi bahwa data kesehatan pribadi milik anggotanya secara tidak sengaja dibagikan ke Google. Bahkan kemungkinan besar digunakan untuk iklan yang ditargetkan melalui Google Ads.

Menurut pernyataan resmi perusahaan, data bocor akibat kesalahan konfigurasi Google Analytics yang digunakan untuk melacak aktivitas pengguna situs web Blue Shield. Celakanya, kesalahan ini berlangsung selama hampir tiga tahun: dari April 2021 hingga Januari 2024.

Dampaknya, sejumlah besar data pribadi dan medis termasuk:

- Nama pasien dan jenis kelamin

- Kota dan kode pos

- Nama dan jenis asuransi

- Tanggal klaim medis serta nama penyedia layanan

- Jumlah tanggungan finansial pasien

- Kriteria pencarian "Find a Doctor"

…semuanya masuk ke sistem iklan Google tanpa sepengetahuan pengguna.

Data Apa yang Tidak Dibocorkan?

Untungnya, Blue Shield memastikan data seperti nomor Jaminan Sosial, nomor SIM, serta informasi perbankan dan kartu kredit tidak termasuk dalam data yang bocor.

Namun tetap saja, data yang bocor memiliki nilai sensitif yang tinggi dan berpotensi disalahgunakan untuk manipulasi psikologis melalui iklan yang ditargetkan secara spesifik, tanpa disadari pemilik data.

Apa yang Harus Dilakukan Pengguna Blue Shield?

Jika Anda adalah pengguna Blue Shield of California, berikut langkah yang disarankan:

- Periksa aktivitas akun Anda secara berkala.

- Jika Anda mencurigai adanya penyalahgunaan data, segera laporkan ke Federal Trade Commission (FTC) di 1-877-438-4338.

- Gunakan tautan bantuan resmi dari Blue Shield untuk melaporkan atau melindungi diri dari potensi pencurian identitas.

- Gunakan mode incognito atau pemblokir pelacak saat mengakses portal kesehatan daring untuk mencegah pelacakan serupa.

Blue Shield belum menyatakan siapa yang benar-benar bertanggung jawab dalam insiden ini, dan penyelidikan masih berlangsung. Namun ini menjadi peringatan keras bagi perusahaan-perusahaan yang menggunakan alat analitik digital—terutama dalam industri yang menangani data sensitif.

Kejadian ini juga memicu kembali perdebatan tentang perlunya peraturan lebih ketat terkait privasi digital dan perlindungan data kesehatan di era AI dan big data.