Penanaman Sejuta Pohon Jadi Aksi Nyata Pelestarian Lingkungan di Sulawesi Tengah
JAKARTA - Dalam semangat menjaga kelestarian alam, aksi penanaman pohon kian menjadi simbol kepedulian terhadap masa depan bumi.
Hari Bumi 2025 menjadi momentum penting untuk mengajak masyarakat memperkuat komitmen dalam menjaga lingkungan hidup. Menanam pohon bukan hanya langkah ekologis, tetapi juga bentuk nyata cinta terhadap kehidupan yang lebih berkelanjutan.
Di tengah ancaman perubahan iklim dan degradasi alam, kolaborasi lintas elemen masyarakat menjadi kunci untuk menghadirkan solusi bersama.
Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulawesi Tengah turut ambil bagian dalam gerakan penanaman satu juta pohon sebagai bentuk nyata kepedulian terhadap pelestarian lingkungan. Kegiatan ini dilaksanakan di lingkungan Sekretariat FKUB Sulteng, dan diikuti oleh para tokoh dari berbagai agama yang tergabung dalam forum tersebut.
Ketua FKUB Sulawesi Tengah, Prof. Zainal Abidin, menyampaikan manusia memiliki tanggung jawab moral dan spiritual untuk menjaga keseimbangan ekologi.
"Hubungan antara manusia dan lingkungan sangat erat. Kita tidak bisa memisahkan keduanya,” ungkapnya di Kota Palu, seperti dikutip ANTARA.
Ia menegaskan gerakan menanam pohon ini bukan sekadar simbolik, melainkan menjadi wujud konkret komitmen FKUB dalam merawat bumi sebagai amanah ilahi. Alam, menurutnya, adalah titipan yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang dalam kondisi yang lebih baik.
Baca juga:
- Tak Cukup dengan Bawa Tumbler, Gen Z Butuh Wadah untuk Aksi Nyata Peduli Isu Lingkungan
- Mongolia Terdampak Parah Pemanasan Global, Hewan Terkapar Minus 32 Celcius Siang Hari
- Tren Pusat Perbelanjaan Ramah Lingkungan dengan Penanaman Pohon Pucuk Merah
- Peringati Hari Bumi, Raymond Y Tungka Komitmen Tak Mau Buang Sampah Saat Naik Gunung
“Hari Bumi seharusnya menjadi pengingat bahwa setiap orang memiliki peran dalam melestarikan alam. Menanam pohon memang langkah sederhana, tetapi dampaknya luar biasa untuk jangka panjang. Ini juga merepresentasikan bahwa kerukunan antarpemeluk agama harus selaras dengan keharmonisan hubungan manusia dengan alam,” jelasnya.
Lebih dari itu, FKUB Sulteng juga berencana menjadikan kegiatan peduli lingkungan ini sebagai agenda yang berkelanjutan. Dalam program triwulan ketiga, forum ini akan menggelar kemah pemuda lintas agama di wilayah perbatasan Kabupaten Poso dan Kabupaten Sigi.
Zainal menambahkan, kegiatan mendatang akan melibatkan komunitas pemuda dari berbagai latar belakang kepercayaan untuk terlibat dalam penanaman pohon dan edukasi lingkungan. “Pelibatan generasi muda sangat penting. Mereka adalah penerus yang harus memahami nilai-nilai keberlanjutan. Kepedulian terhadap lingkungan harus terus hidup dan diwariskan,” tuturnya, yang juga merupakan Guru Besar di UIN Datokarama Palu.