Eksklusif Imelda Therinne Jajal Jadi Produser untuk Wujudkan Film Impian
JAKARTA - Imelda Therinne adalah salah satu aktris yang kerap muncul dalam berbagai film dan masih aktif mengukir namanya. Cukup diremehkan tidak membuat ia tidak berhenti dalam mewujudkan passion project-nya.
Tahun ini, ia memulai akting dengan bergabung dengan film Samar: Ilmira Nirmala. Ia berperan sebagai komikus yang kerap membuat cerita horor namun ternyata kehidupannya lebih horor dari kisah di komiknya.
“Menurut aku, konsep ini ide yang cukup keren untuk divisual secara desain karena melihat horor yang berjamuran, kita hanya bergantung sama setan tapi di sini yang spesial dalam film ini komikus memberi cerita horor kepada pembacanya tapi kehidupan penulisnya lebih horor dari ceritanya,” kata Imelda Therinne memulai ceritanya kepada VOI beberapa waktu lalu.
“Ini kayak matahin stigma film horor indonesia yang bergantung sama elemen. Samar ini brangkat dari sebuah bukan hanya film horor yang ingin memberi keseraman tapi lebih dalam dari itu, ada sebuah soal kehidupan, menurut aku kehidupan itu bisa jadi horor, keresahan, kegelisahan, luka batin bisa jadi horor,” jelasnya antusias.
Ia sendiri jarang membintangi genre horor. Film horor terakhir yang ia perankan adalah Tutuge (2022) sementara ia juga akan berakting dalam film Songko yang direncanakan tayang pada tahun ini.
“Mungkin genrenya horor karena suatu gelap tapi akan ada transisi ke drama dan ini drama manusia. Aku sih merasa kita bisa relate dengan banyak hal ketika kita terjebak di rutinitas sehari-hari dan trauma yang kita bawa dan keresahan ketika kita mengerjakan sesuatu tapi gak ada hasrat atau ketika kita bangkrut,” jelas wanita yang akrab disapa Imel tersebut.
Jadi Produser
Melalui film Samar, Imelda Therinne menjajal kemampuan sebagai produser yang ia sebut tidak melulu berhubungan dengan finansial. Wanita kelahiran 19 Mei itu menjelaskan kalau menjadi produser adalah bentuk keinginan untuk mewujudkan film impiannya.
“Dimulai dari sebuah film, menurutku kalau ceritanya bagus, aku akan bergabung, siapa pun akan bergabung. Mulai dari skrip dan aku suka aku gabung dalam skenario untuk diskusi tentang skrip dan genre ini yang mainstream sekarang patut diperjuangkan,” katanya.
“Alhamdulillah masuk ke beberapa festival di England, Birmingham, Spanyol sama Kuala Lumpur melalui festival yang memang genrenya horor dan itu sebuah prestasi jadi official selection dan aku gabung di sini karena mau terlibat dengan konsep yang seru dan fresh dan mengembalikan esensi kualitas horor itu sendiri,” tuturnya.
Imelda melanjutkan, premis film Samar adalah sesuatu yang membuatnya jatuh hati sehingga ia ingin memperjuangkan film ini untuk diproduksi dan tayang di tahun ini. Beruntung, setelah tiga tahun, film ini akhirnya tayang di bioskop dan bisa menemukan audiensnya.
“Ceritanya lebih kuat dan banyak makna perspektif yang relate ke banyak orang di luar sana. Mudah-mudahan bisa jadi ekspresi tentang kehidupan yang mewakili banyak perasaan penonton tapi tetap perasaan yang bisa mewakili perasaan yang ada dan bisa dijadikan bahan introspeksi dan sharing. Menurutku, film itu medium to share feelings berbagai impian dan fantasi dan itu dimiliki manusia,” lanjutnya.
Di samping itu, wanita 42 tahun itu belakangan banyak memerankan karakter yang beragam. Ia mencuri perhatian dengan perannya sebagai Erni dalam serial Gelas Kaca, begitu juga Vivian dalam Nightmares and Daydreams.
“Setiap proyek yang aku ambil, aku mencari apa yang bisa aku berikan. Yang pasti skenario sebagai pembaca ya bagus skripnya cuma mungkin apa yang bisa aku deliver saat aku memainkan. Jadi peran-peran yang aku mainkan, aku harus pecah kalau gak pecah, gimana penonton gak pecah,” kata Imelda Therinne.
“Film-film semakin seru, ada genre perselingkuhan, ada yang koplo dikit, komedi macam-macam. Aku berusaha untuk beragam dan be open minded,” katanya.
Meski begitu, raut wajahnya semakin antusias ketika ditanya apakah ia masih memiliki peran impian. Ibu dua anak itu mengaku genre Indonesia yang terbatas membuatnya semakin penasaran untuk mendalami peran-peran itu.
“Banyak banget apalagi di Indonesia genre kan terbatas, paling horor drama percintaan. Kalau nonton film luar genrenya banyak isu sosial, politik, hukum, tentang musical, i don’t know. Banyak. Banyak,” tegasnya.
Selain berperan, ia juga masih tertarik jika nantinya ada tawaran menjadi produser untuk film-film dengan berbagai genre. Ia berharap ia ingin selalu memperjuangkan cerita yang dirasa segar untuk disajikan kepada penonton film Indonesia.
“Film patut diperjuangkan dengan ide cerita yang fresh dan punya makna dan pesan walau digambarkan secara dark tapi digambarkan secara jujur,” kata Imelda Therinne menutup perbincangan hari itu.
Baca juga: