Larangan Penerbangan Lebanon Tidak akan Menutup Jaringan Pendanaan Iran-Hizbullah
JAKARTA - Keputusan Lebanon untuk menangguhkan penerbangan tanpa batas waktu ke dan dari Iran pada Hari Selasa tidak akan berdampak signifikan pada jaringan pasokan Hizbullah dengan Teheran, kata sumber politik yang dekat dengan kelompok tersebut dan analis yang mengetahui masalah tersebut.
"Iran telah mengembangkan banyak cara yang saling terkait untuk mendukung sekutu mereka di Lebanon dan kawasan tersebut, dan tidak terbatas pada pengiriman uang langsung kepada mereka. Mereka dapat mengatasi hambatan yang menghalangi mereka, seperti pembatasan penerbangan Iran," kata sumber tersebut kepada The National, menepis klaim pesawat Iran mengangkut semua dana Hizbullah sebagai "berlebihan", seperti dikutip 20 Februari.
Larangan tersebut, yang dikeluarkan setelah militer Israel menuduh Teheran menggunakan pesawat sipil untuk menyelundupkan uang tunai guna mempersenjatai kelompok militan Lebanon, dapat memengaruhi persenjataan kembali dan upaya rekonstruksi di Lebanon selatan untuk sementara, tempat penduduk mengeluhkan keterlambatan pembayaran kompensasi.
Namun, Hizbullah, yang merupakan bagian dari "Poros Perlawanan" yang dipimpin Iran, mungkin dapat mengandalkan jaringan dukungan Iran yang maju dan beragam dengan proksi-proksinya.
"Yaman lebih jauh dan kompleks secara geografis, dan telah dikepung selama bertahun-tahun, termasuk pelabuhan dan pantainya selama perang sekitar 10 tahun lalu. Tetapi keahlian Iran tetap mampu menghindari rintangan, termasuk mengirimkan peralatan dan kemampuan militer," jelas sumber politik tersebut.
Pembicaraan tidak resmi terus berlanjut, kata mereka, mengenai berbagai bentuk kesepakatan, termasuk mata uang kripto dan logam mulia.
Pekan lalu, otoritas Lebanon memblokir sebuah pesawat dari Iran untuk mendarat di Lebanon. Sumber keamanan Lebanon mengatakan, Israel telah memperingatkan Lebanon,a mereka akan menyerang bandara Beirut jika pesawat Iran itu mendarat, AFP melaporkan.
Sehari sebelumnya, Avichay Adraee, juru bicara militer Israel, menuduh Pasukan Quds IRGC Iran dan Hizbullah menggunakan bandara Beirut untuk "menyelundupkan dana yang dialokasikan untuk mempersenjatai Hizbullah dengan tujuan melakukan serangan terhadap Israel".
Larangan Lebanon memicu protes keras selama berhari-hari oleh para pendukung Hizbullah di dekat bandara. Hizbullah mendesak pemerintah Lebanon untuk membatalkan keputusan tersebut, dengan menyebutnya sebagai "kepatuhan terhadap perintah musuh", mengacu pada Israel.
Sementara itu, analis politik Karim El Mufti mengatakan kepada The National, larangan tersebut "terutama merupakan langkah politik" dari pemerintah baru Lebanon.
Meskipun ada protes, otoritas Lebanon pada Hari Selasa memperpanjang larangan tersebut ke semua penerbangan Iran tanpa menyebutkan berapa lama tindakan tersebut akan tetap berlaku.
Diketahui, Iran telah lama dituduh menyediakan dana dan senjata untuk Hizbullah, terutama melalui perbatasan Lebanon-Suriah yang keropos.
Jatuhnya rezim Presiden Suriah Bashar Al Assad dalam serangan kilat pada Bulan Desember membuat kelompok tersebut kehilangan sekutu utama dan mengganggu rute pasokan tradisional, yang dilaporkan meningkatkan pentingnya bandara Beirut sebagai alternatif.
Hizbullah diketahui sangat membutuhkan dana untuk membangun kembali pasukannya. Pertempuran lintas batas yang sengit selama berbulan-bulan dengan Israel, yang meningkat menjadi perang skala penuh pada pertengahan September, telah memberikan pukulan yang signifikan bagi kelompok tersebut.
Tantangan yang dihadapinya bukan hanya militer. Hizbullah menyediakan layanan sosial yang luas bagi para pendukungnya, termasuk pendidikan, perawatan kesehatan, dan barang-barang bersubsidi.
Hizbullah juga menawarkan bantuan keuangan kepada sekitar 1,2 juta orang yang mengungsi selama perang, termasuk bantuan sewa dan tunjangan hingga 300 dolar AS, menurut penduduk di Lebanon selatan, terlepas dari afiliasi mereka dengan Hizbullah.
Kelompok tersebut juga berjanji untuk memberikan kompensasi kepada mereka yang terkena dampak konflik dan membantu membangun kembali desa-desa yang hancur akibat perang selama berbulan-bulan dengan Israel, melalui LSM-nya, Jihad al Bina.
Jika penargetan sistematis Israel terhadap rute pasokan dan sumber pendanaan Hizbullah telah menambah tekanan pada kelompok tersebut, Israel masih jauh dari mampu mencekiknya.
Baca juga:
- Hamas Serahkan Empat Jenazah Sandera Israel, Termasuk Kakak-Adik Kfir dan Ariel Bibas
- Wamenlu RI Arrmanatha Nasir: Kerja Sama Negara Global South Harus Diperkuat untuk Memastikan Sistem yang Adil
- Pemerintah Pulangkan 46 WNI Korban TPPO di Myanmar, Ada Mantan Anggota DPRD
- Denmark Tingkatkan Anggaran Militernya Rp114 Triliun untuk Memperkuat Pertahanan
"Hizbullah telah menunjukkan kemampuannya untuk menyediakan kesejahteraan sosial dan mendukung rekonstruksi pada tahun 2006," kata El Mufti, mengacu pada perang sebelumnya antara kelompok tersebut dan Israel.
"Mereka akan melakukannya lagi," tandasnya.
Hizbullah sebelumnya juga telah menunjukkan akal sehatnya dalam menghindari sanksi, katanya, menambahkan kelompok tersebut memelihara hubungan yang luas di Amerika Latin dan Afrika Barat, yang juga menyediakan uang tunai bagi kelompok tersebut.
"Saya tidak percaya Hizbullah perlu khawatir tentang kemampuannya untuk mengamankan sumber pendanaan. Pertarungan untuk mereka sekarang lebih bersifat politis daripada finansial," katanya.