Kremlin Tolak Usul PM Inggris Kirim 30 Ribu Pasukan Penjaga Perdamaian ke Ukraina
JAKARTA - Kremlin menyebut rencana Inggris mengirim pasukan penjaga perdamaian ke Ukraina tidak dapat diterima oleh Rusia. Rusia memantau pernyataan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dengan cermat.
Starmer sebelumnya mengatakan negaranya "siap dan bersedia" menempatkan pasukan Inggris di Ukraina sebagai jaminan keamanan jika terjadi kesepakatan ‘gencatan senjata’ antara Moskow dan Kyiv.
Starmer berencana menyampaikan rencana kepada Presiden AS Donald Trump untuk mengirim kurang dari 30.000 prajurit Eropa ke Ukraina sebagai imbalan atas perlindungan pasukan Amerika, lapor surat kabar Telegraph.
Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan usulan tersebut tidak dapat diterima karena akan melibatkan pasukan dari negara anggota NATO. Hal itu disebut mempunyai konsekuensi bagi keamanan Rusia sendiri.
“Hal ini menjadi perhatian bagi kami, karena kita berbicara tentang pengiriman kontingen militer – tentang kemungkinan pengiriman kontingen militer dari negara-negara NATO ke Ukraina,” kata Peskov dilansir Reuters, Kamis, 20 Februari.
“Ini memiliki arti yang sangat berbeda dari sudut pandang keamanan kami,” katanya.
"Kami memantau hal ini dengan sangat cermat,” sambungnya.
Rusia telah berulang kali mengatakan pihaknya menentang penempatan pasukan NATO di Ukraina.
Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov mengatakan pekan ini Moskow akan memandang pengiriman pasukan sebagai "ancaman langsung" terhadap kedaulatan Rusia, bahkan jika pasukan tersebut beroperasi di sana di bawah bendera yang berbeda.
Di tengah perundingan dengan Amerika Serikat di Riyadh pada Selasa, Rusia meminta NATO membatalkan janjinya pada tahun 2008 untuk memberikan Ukraina keanggotaan dalam aliansi yang dipimpin Amerika.
Rusia menolak gagasan pasukan anggota NATO dapat menjadi penjaga perdamaian berdasarkan perjanjian gencatan senjata.