Uni Eropa Umumkan Paket Bantuan Kemanusiaan Rp2 Triliun untuk Gaza
JAKARTA - Uni Eropa pada Hari Kamis mengumumkan paket bantuan kemanusiaan senilai 120 juta euro (Rp2.022.120.000.000) untuk mendukung warga Jalur Gaza, usai pertemuan Perdana Menteri Palestina Mohammad Mustafa dan pejabat blok tersebut di Brussels, Belgia.
Berbicara pada konferensi pers di Brussels, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyatakan, "Perjanjian gencatan senjata dan pembebasan (tahanan) merupakan secercah harapan yang sangat dibutuhkan di wilayah tersebut, tetapi situasi kemanusiaan di Gaza masih mengerikan," melansir WAFA 17 Januari.
Sementara, Komisaris UE untuk Manajemen Krisis Janez Lenarčič usai bertemu dengan PM Mustafa mengatakan, "Kami membahas kebutuhan yang sangat besar di Gaza dan Tepi Barat serta cara untuk mengatasinya."
Lenarčič mengumumkan rencana untuk segera mengunjungi wilayah Palestina guna menilai situasi secara langsung.
Dengan paket baru ini, total bantuan kemanusiaan Uni Eropa ke Gaza sejak 2023 melampaui 450 juta euro (Rp7.582.950.000.000), dilengkapi dengan pengangkutan udara yang telah mengirimkan lebih dari 3.800 ton bantuan.
Uni Eropa menegaskan kembali komitmennya untuk bekerja sama dengan mitra di lapangan guna memastikan pengiriman bantuan yang cepat kepada mereka yang membutuhkan.
Paket yang baru diumumkan tersebut mencakup bantuan pangan untuk mengatasi kerawanan pangan akut dan malnutrisi, dukungan bagi fasilitas perawatan kesehatan untuk mempertahankan operasi dan pasokan, serta langkah-langkah untuk meningkatkan layanan air dan sanitasi guna menyediakan air bersih dan praktik kebersihan yang aman.
Selain itu, paket tersebut mencakup ketentuan tempat penampungan yang aman bagi para pengungsi yang kehilangan rumah karena eskalasi baru-baru ini.
"Uni Eropa akan terus mendukung rakyat Palestina," tegas von der Leyen, seraya menambahkan paket bantuan senilai 120 juta euro untuk tahun 2025 juga akan mencakup ratusan ton bantuan dalam bentuk barang untuk mempertahankan dukungan bagi penduduk.
Baca juga:
- Gencatan Senjata Tidak Memperbaiki Kehidupan Warga Palestina yang Hancur Akibat Genosida Israel
- Pejabat Israel Bantah Penarikan Bertahap IDF dari Koridor Philadelphia pada Tahap Pertama Gencatan Senjata
- Yoon Suk-yeol Ditahan Usai Dimakzulkan, Bagaimana Protokol Keamanannya dan Istri?
- Yoon Suk-yeol Tolak Pemeriksaan oleh CIO dengan Alasan Hukum
Diketahui, negosiator mencapai kesepakatan bertahap pada Hari Rabu untuk mengakhiri perang di Gaza antara Israel dan Hamas setelah 15 bulan konflik sejak 7 Oktober 2023, mengobarkan ketegangan di Timur Tengah. Ini akan mulai berlaku pada Hari Minggu mendatang.
Kesepakatan tersebut mencakup pembebasan bertahap para sandera yang ditangkap oleh militan yang dipimpin Hamas, dengan imbalan warga Palestina yang ditahan di penjara Israel.