Ridwan Kamil: Jangan Wisata Bencana di Cianjur

JAKARTA - Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (Kang Emil) meminta agar donatur ataupun warga tak melakukan wisata bencana pascagempa Cianjur, Jawa Barat.

Kang Emil juga mengingatkan agar bantuan disalurkan dengan efektif bukan berbondong-bondong mengantar yang malah menimbulkan kemacetan ke akses lokasi gempa Cianjur.

“Jangan lakukan wisata bencana. Bantuannya 1 mobil, tapi yang mengantar di belakang bisa sampai 6-8 mobil. Inilah salah satu yang membuat jalanan desa di zona bencana yang sempit rata-rata 4-6 m menjadi macet total setiap pagi sampai sore. Belum pada parkir di pinggir jalan yang memang sudah sempit,” kata Ridwan Kamil lewat unggahan di akun Instagram @ridwankamil, Selasa, 29 November.

Kemacetan yang muncul karena ‘rombongan’ pengantar bantuan malah mempersulit evakuasi korban dan distribusi bantuan kepada para pengungsi.

“Diimbau, agar efisien dan tertib cukuplah mobil bantuannya saja dengan seperlunya tim perwakilan atau titipkan ke organisasi relawan resmi,”kata Ridwan Kamil.

“Semoga dengan hati yang berempati, batin yang bijak dan pikiran yang jernih, imbauan ini bisa dipahami. Hatur Nuhun,” tuturnya.

 

 

 

 

 

Lihat postingan ini di Instagram

Sementara itu, per Selasa, 29 November, tim Pencarian dan Pertolongan (SAR) gabungan masih melakukan pencarian enam korban yang hilang usai gempa bumi bermagnitudo 5,6 di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

"Saat ini masih tersisa enam orang lagi yang dicari di dua lokasi, yakni Kampung Cijedil sebanyak empat orang dan Kampung Cicadas sebanyak dua orang," kata Koordinator Misi Pencarian Basarnas Jumaril di Posko Basarnas Cugenang, Cianjur dilansir ANTARA, Selasa, 29 November.

Hingga saat ini jumlah total korban yang berhasil dievakuasi sesuai data Posko Induk berjumlah 326 orang dalam kondisi meninggal dunia.

"Jumlah itu sudah termasuk di awal ada yang dievakuasi mandiri oleh masyarakat," katanya.

Jumaril mengatakan, proses pencarian orang hilang di lokasi terdampak gempa mengalami kendala cuaca hujan yang sulit untuk dikendalikan.

Basarnas bekerja sama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memonitor situasi cuaca harian di sekitar lokasi pencarian. "Kalau diprediksi hujan, misalnya pada sore hari, maka proses evakuasi kita majukan jamnya lebih pagi," katanya.

Cuaca hujan kerap kali memicu longsor susulan hingga timbunan tanah semakin tebal.

"Material longsor luar biasa, sangat tebal dan licin, gempa susulan juga perlu diwaspadai, sebab kalau ada goyangan bisa membahayakan tim kami," katanya.