Mewaspadai Wisatawan asal China yang Datang ke Indonesia

JAKARTA - Kedatangan 174 turis asal Kunming, China tiba di Bandara Internasional Minangkabau di Padang Pariaman, pada Minggu 26 Januari kemarin, jadi sorotan publik. Pasalnya masyarakat dunia khususnya sedang khawatir akan penyebaran wabah corona yang berasal dari Wuhan, China. 

Kedatangan wisatawan yang disambut oleh pemerintah setempat itu berubah menjadi, rasa khawatir. Meskipun pihak penyelenggara tur, memastikan bahwa rombongan wisatawan China yang datang ke Sumatera Barat itu tidak terjangkit virus Corona. 

Di media sosial Twitter, tagar #coronavirus masih menjadi trending topic. Warganet ramai-ramai meminta pemerintah Indonesia untuk bersikap tegas, terhadap kedatangan wisatawan asing khususnya dari China. Penolakan terhadap wisatawan China juga datang dari warga Bukittinggi.

Menanggapi hal ini, Anggota Komisi I DPR RI, Willy Aditya mengatakan, pemerintah memang perlu memantau terus perkembangan situasi yang ada. Menurut dia, langkah antisipatif perlu ditegakkan pemerintah agar kemanan, kenyamanan dan keselamatan warga Indonesia terlindungi.

"Pemerintah China sendiri sudah mengeluarkan larangan bepergian bagi warga negaranya. Ini sebenarnya legitimasi jika Indonesia mau melarang sementara kedatangan WN China ke Indonesia. Korea Selatan dan Amerika sudah mengeluarkan larangan serupa juga. Jadi silahkan pemerintah mengeluarkan larangan yang sama," tuturnya saat dihubungi VOI, di Jakarta, Senin, 27 Januari.

Willy menegaskan larangan keluar-masuk WNA dalam upaya antisipasi penyebaran virus mematikan ini harus fokus pada masalah ancaman kesehatan yang harus dihadapi. Sambil pemerintah juga terus memantau WNI yang masih berada di China khususnya Wuhan dan daerah yang terjangkit virus corona.

"Larangan masuk pekerja asal China ke Indonesia terutama yang berkenaan dengan proyek-proyek strategis pemerintah tentu harus dilakukan sangat hati-hati. Jika memang bisa ditunda, boleh saja dilarang, tapi kalau tidak bisa ditunda, maka harus dipastikan bahwa mereka yang akan masuk sudah melalui test kesehatan yang memadai dan terus dipantau," jelasnya.

Ketua DPP Partai NasDem ini mengatakan, dampak dari penyebaran corona ini sudah menyentuh isu non kesehatan semata. Bahkan, berimbas pada menurunnya saham-saham perusahaan berkaitan dengan perjalanan dan wisata, namun meningkat pada saham perusahaan farmasi.

"Kita tidak bisa menggadaikan isu kesehatan yang paling penting dan menukarnya dengan isu Pariwisata, Ekonomi dan lainnya. Pemerintah perlu fokus untuk melindungi WNI baik di dalam negeri maupun yang sedang berada di China dan negara lainnya yang mungkin terdampak oleh penyebaran virus corona ini," jelasnya.

Meski pun wisatawan China yang datang ke Indonesia memang memberi devisa cukup tinggi bagi negara. Namun, menurut Willy, tidak akan sebanding dengan ancaman kesehatan virus corona yang bisa membunuh warga negara.

"Di dalam maupun di luar negeri, WNI adalah tanggung jawab pemerintah. Kita lindungi dalam negeri dari masuknya virus corona. Tapi juga jangan lupa ada warga kita di China, ratusan ribu WNI yang sedang berada di daerah yang terjangkit di China. Itu juga harus diperhatikan dan disiapkan langkah penerlindungan dan penyelamatannya," tuturnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi IX Nihayatul Wafiroh mengatakan, kekhawatiran masyarakat mengenai virus corona ini berangkat dari ketidakpahaman bagimana menghadapi virus tersebut. Seharusnya, pemerintah lebih gencar mensosialisasikan mengenai virus ini.

Selain itu, Nihayatul menilai, pemerintah pusat juga seharunya mengambil langkah preventif dengan cara melakukan negosiasi kepada pemerintah China untuk meminta agar warganya tidak melakukan kunjungan wisata.

"Ini sebenarnya juga kaitannya bukan hanya pemerintah Indonesia, tetapi juga pemerintah China juga melarang warganya untuk traveling ke luar negeri. Kebijakan ada dikemampuan pemerintah menganalisis mana dampaknya yang paling mungkin," tuturnya.

Penolakan tinggi terhadap wisatawan China, kata Nihayatul karena kekhawatiran terhadap virus corona. Sehingga, Pemerintah juga harus melakukan pengarahan kepada turis yang akan berkunjung ke Indonesia untuk menunda kunjungannya.

"Pemerintah bisa mengatakan kepada para turis bahwa keadanya sedang seperti ini, jadi mungkin bisa dijadwalkan ulang setelah situasinya sudah membaik," jelasnya.

Sebelumnya, Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit meminta kunjungan wisatawan asal China di provinsinya dipercepat. Permintaan itu dilontarkan karena Nasrul merasakan adanya penolakan dari masyarakat soal keberadaan turis asal negara yang jadi tempat pertama kali munculnya virus corona.

"Ini kan menyangkut hubungan luar negeri. Jadi kita sedang bernegosiasi dengan pihak China dan travel agen agar kunjungannya di Sumbar dipersingkat saja," kata Nasrul, seperti dikutip Kompas.com.

Seperti diketahui, sejumlah negara di Dunia mengeluarkan larangan kunjungan dari China sebagai upaya antisipatif menghindari tersebarnya virus Corona asal Wuhan yang mematikan. Tercatat tidak hanya Amerika Serikat, Korea selatan, bahkan China sendiri melarang warga negaranya dari daerah terjangkit Corona untuk keluar negeri.

Komisioner Ombudsman Republik Indonesia, La Ode Ida bahkan meminta pemerintah untuk mengeluarkan larangan masuk sementara bagi pekerja dan wisatawan asal China. Lebih jauh dia bahkan meminta pemerintah untuk mendata pekerja asal China yang sudah ada di Indonesia.