Inklusi Keuangan Tinggi tapi Literasi Rendah, LPS Pacu Edukasi di Berbagai Media

JAKARTA - Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan inklusi keuangan di Indonesia lebih tinggi dibandingkan literasi keuangan. Untuk itu, kata dia, inklusi keuangan di Indonesia masih perlu ditingkatkan.

Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada tahun 2019, indeks inklusi keuangan Indonesia menyentuh angka 76,19 persen, sedangkan literasi keuangan hanya menyentuh 38,03 persen.

"Inklusi dan literasi keuangan semakin meningkat namun terdapat gap antara inklusi dan literasi. Selain itu terdapat gap inklusi dan literasi antar wilayah di Indonesia," ujarnya dalam webinar di Jakarta, Kamis 18 Agustus.

Ia merinci, indeks inklusi keuangan pada tahun 2013 sebesar 59,74 persen sedangkan literasi keuangan berada di 21,84 persen. Sementara pada tahun 2016, indeks inklusi mengalami kenaikan ke angka 67,80 persen dan literasi keuangan berada di kisaran 29,70 persen.

"Memang mengalami peningkatan tapi tidak banyak," ujarnya.

Sementara itu, berdasarkan jenis lembaga keuangan, Purbaya bilang masih banyak didominasi perbankan. Hal ini terlihat dari data inklusi keuangan perbankan pada tahun 2019 telah menyentuh angka 73.88 persen, sedangkan literasi keuangan perbankan berada di angka 36.12 persen.

"Inklusi dan literasi keuangan masyarakat masih lebih didominasi oleh akses dan pengetahuan terhadap jenis jasa keuangan perbankan," imbuhnya.

Lebih jauh Purbaya menambahkan jumlah investor di Indonesia terus menunjukkan tren peningkatan.

Berdasarkan data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per Juli 2022, jumlah investor pasar modal sudah menyentuh 9,3 juta investor.

Sementara itu, jumlah investor saham per Juli 2022 di angka 4,1 juta investor. Di sisi lain, jumlah investor reksadana per Juli 2022 berada di 8,6 juta investor. Serta, jumlah investor SBN per Juli 2022 di 736,4 ribu investor.

"Secara demografi, investor di Indonesia didominasi oleh generasi muda (di bawah 30 tahun) dan latar belakang pendidikan tertinggi SMA/sederajat," kata purbaya.

Untuk meningkatkan literasi keuangan di masyarakat, pihaknya telah bersinergi dengan Bank Indonesia, OJK, dan Kementerian Keuangan melalui Forum Koordinasi Pembiayaan Pembangunan melalui Pasar Keuangan (FK-PPPK) sebagai upaya bersama untuk meningkatkan literasi keuangan kepada generasi muda dan masyarakat dalam rangka memperbesar basis investor ritel serta mengembangkan sektor keuangan di Indonesia. Baru-baru ini diluncurkan Program Like It!

"LPS secara rutin memberikan konten-konten edukasi keuangan melalui media sosial, seperti pengenalan peran dan fungsi LPS, tips dan trik dalam mengelola keuangan, dan lain-lain. Sosialisasi ini diarahkan supaya generasi muda dengan cepat dapat menerima informasi keuangan dalam bentuk kekinian," bebernya.

Selain itu, LPS juga secara rutin memberikan konten-konten edukasi keuangan melalui media sosial, seperti pengenalan peran dan fungsi LPS, tips dan trik dalam mengelola keuangan, dan lain-lain. Sosialisasi ini diarahkan supaya generasi muda dengan cepat dapat menerima informasi keuangan dalam bentuk kekinian.

Ketiga, LPS bekerja sama dengan universitas/perguruan tinggi untuk melakukan pengembangan kurikulum tentang ke-LPS-an dan literasi keuangan masyarakat. Selain itu, dengan universitas/perguruan tinggi, LPS juga sering kali mengadakan sosialisasi untuk meningkatkan edukasi keuangan kepada civitas akademik, baik dosen maupun mahasiswa.

"Terakhir, LPS secara intensif memberikan edukasi salah satunya tentang pentingnya literasi keuangan melalui webinar maupun seminar yang diselenggarakan oleh berbagai pihak seperti media," pungkasnya.