SASKARA Kenalkan Werni, Mukena dan Sajadah dengan Nuansa Jawa Timuran

JAKARTA - Bertepatan semarak Hari Kemerdekaan RI, SASKARA mengenalkan Werni, koleksi mukena dan sajadah dengan nuansa wayang kulit khas Jawa Timur. Werni adalah bagian dari Seri Nusantara SASKARA yang akan mengangkat dan melestarikan keindahan dari setiap provinsi di Indonesia.

Tahun lalu, SASKARA memulai Seri Nusantara melalui koleksi mukena Purak Barik yang terinspirasi tarian suku Dayak, Kalimantan Utara. Kemudian dilanjutkan dengan Kilau Mandalika yang mengangkat keindahan mutiara Lombok, Nusa Tenggara Barat melalui aksesoris seperti tasbih dan strap masker yang bisa menjadi kalung maupun gelang.

Inspirasi SASKARA kali ini datang dari budaya wayang kulit yang melegenda di Jawa Timur. Wayang merupakan seni pertunjukkan yang telah mengakar di kebudayaan Indonesia, khususnya di wilayah Jawa.

Status legendaris wayang juga sudah diakui oleh lembaga internasional UNESCO yang menyebut wayang sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan budaya yang indah dan berharga. Ada yang meyakini kata “wayang” berasal dari kata “bayang”, karena pertunjukkan wayang dimainkan dari belakang layar, sehingga yang dilihat penonton adalah bayangan.

Sebagian juga mengatakan bahwa “wayang” berasal dari kata “Ma Hyang” yang memiliki arti menuju kepada roh spiritual, dewa, atau Tuhan Yang Maha Esa. Seni pertunjukkan tradisional yang diiringi dengan musik gamelan dan dimainkan oleh seorang dalang ini dulunya juga merupakan salah satu media dakwah yang digunakan oleh Wali Songo.

Kaitan wayang dengan arti “Ma Hyang” ini menginspirasi Andya Kartika, CEO sekaligus desainer SASKARA, untuk mengeluarkan koleksi mukena dan sajadah dengan ilustrasi wayang yang dapat dilihat di pouch mukena dan sajadah.

Di koleksi Werni yang terdiri dari mukena, sajadah wanita, dan sajadah pria, SASKARA menggunakan bahan-bahan pilihan. Untuk mukena Werni, SASKARA memilih bahan ultra fine velvet yang sangat tipis, halus, sejuk, dan tidak mudah kusut.

Mukena Werni juga dilengkapi pouch kecil sehingga praktis dan mudah dibawa bepergian. Sajadah pria juga bisa dikemas ringkas dengan digulung menggunakan belt kulit lalu dikaitkan ke tas sehingga praktis.

Selain itu, mukena Werni adalah bagian dari seri mukena Jasmine, salah satu best seller SASKARA. Bunga jasmine atau melati memang memiliki ukuran kecil, namun ada arti luar biasa di baliknya, yaitu hadiah dari Tuhan. Seri mukena Jasmine diminati banyak orang karena ukurannya yang kecil, ringan, dan cocok untuk dibawa traveling.

Koleksi Werni hadir dengan lima varian produk, di mana setiap nama varian diambil dari bahasa Jawa dan mewakili karakter-karakter pria dan wanita. Untuk mukena dan sajadah wanita, ada Anna yang berarti kebaikan hati, Jenar yang berarti semangat membaja, Maya yang berarti lembut, Naya yang berarti mulia, serta Nara yang berarti wanita bahagia.

Varian sajadah pria terdiri Dipa yang berarti cahaya, Kresna yang berarti bijaksana, Aruna yang berarti kemuliaan, Praya yang bermakna cerdas, dan Arya yang berarti terhormat. Setiap nama varian juga memiliki warna khasnya masing-masing.

Di samping Werni, kali ini SASKARA juga mengeluarkan belasan varian baru sebagai lanjutan dari Kilau Mandalika.

“Sebelumnya koleksi Kilau Mandalika meluncurkan 4 varian dan semuanya disambut baik oleh masyarakat. Maka dari itu, SASKARA menanggapi antusiasme ini dengan mengeluarkan 13 varian baru melalui tasbih, ring hijab, dan strap masker berhiaskan mutiara khas Lombok,” tutur Andya Kartika, dalam keterangannya, dikutip Rabu 17 Agustus.

COO SASKARA, Afif Kamal Fiska, juga menyampaikan pendapat serupa. Didirikan di akhir 2018, SASKARA selalu mengangkat keindahan Nusantara di setiap produknya. SASKARA meyakini bahwa kekayaan dan keberagaman budaya Indonesia perlu dikenal oleh khalayak luas.

SASKARA berupaya melestarikan kebudayaan Indonesia dengan memperkenalkan ciri khas dari setiap daerah di Indonesia ke masyarakat dalam negeri dan mancanegara juga. Langkah selanjutnya, SASKARA berencana melengkapi Seri Nusantara menjadi 34 koleksi, sesuai dengan jumlah provinsi di Indonesia.