Jokowi: Pandemi COVID-19 Tak Boleh Hentikan Transformasi Besar yang Sedang Dilakukan

JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengingatkan transformasi besar yang dilakukan di Tanah Air harus tetap berjalan apa pun kondisinya. Jokowi bahkan mengatakan pandemi COVID-19 tidak boleh jadi alasan untuk menghentikan upaya itu.

"Pandemi COVID-19 tidak boleh menghentikan transformasi besar yang sedang kita lakukan. (Transformasi, red) tetap harus berjalan," kata Jokowi saat pengarahan di Dies Natalis ke-67 Universitas Parahyangan, Bandung yang ditayangkan di YouTube Sekretariat Presiden, Senin, 17 Januari.

Jokowi mengatakan terdapat tiga transformasi besar yang harus berjalan yaitu di sektor industri hilir, ekonomi hijau, dan ekonomi digital.

Di sektor industri hilir, salah satu transformasi yang disinggung eks Gubernur DKI Jakarta itu adalah bagaimana Indonesia tak lagi mengekspor barang mentah. "Sejak zaman VOC yang kita kirim selalu bahan mentah yang selalu kita kirim selalu raw material," tegasnya.

"Oleh sebab itu, sejak 2020 saya sampaikan enggak bisa kita teruskan. Setop ekspor nikel, setop bahan mentah. Harus diproduksi menjadi barang jadi maupun barang setengh jadi tetapi jangan barang mentah, jangan raw material," imbuh Jokowi.

Tak hanya menyetop ekspor nikel, pemerintah juga akan menyetop ekspor bahan mentah bauksit. "Setop yang namanya ekspor bahan mentah tembaga," ujarnya.

"Kita ingin nilai tambah itu ada di Tanah Air sehingga selain memberikan penerimaan negara yang semakin besar berupa pajak royalti penerimaan negara bukan pajak, juga bisa membuka lapang kerja yang sebesar-besarnya untuk rakyat kita," sambung Jokowi.

Meski begitu, dia mengakui banyak tantangan terkait transformasi ini. Salah satunya, datang dari negara yang membeli nikel dari Indonesia.

Namun, Jokowi mengaku tidak takut bahkan siap menghadapi negara yang mengadukan Indonesia ke organisasi perdagangan dunia (WTO).

Selain transformasi di sektor hilir industri, transformasi ekonomi hijau saat ini juga terus dikebut. Bahkan, saat ini, kawasan industri ramah lingkungan tengah dibangun di Kalimantan Utara.

Apalagi, Indonesia saat ini memiliki potensi sumber energi terbarukan (EBT) yang begitu melimpah hingga 418 ribu megawatt yang berasal dari sungai, arus bawah laut, geotermal, hingga angin. Seluruh potensi itu, sambung dia, harus bisa dikembangkan secara maksimal.

Terakhir, Jokowi juga menyinggung soal sektor ekonomi digital yang harus segera bertransformasi. Kata dia, Indonesia memiliki potensi dan pasar yang sangat besar di industri tersebut sehingga perkembangannya akan lebih pesat dibanding negara lain.

"Di 2025, nilai pasar digital kita akan mencapai USD146 miliar. Ada potensi Rp2.100 triliun yang bisa kita raih," jelasnya.

Untuk meraih potensi itu, pemerintah berkomitmen terus membangun infrastruktur pendukung transformasi digital. Bahkan pada 2021, pemerintah telah memulai konstruksi satelit multifungsi Satria-1 dan 12.500 base transceiver station (BTS) juga tengah didirikan di belasan ribu desa dan kelurahan yang belum memiliki akses 4G.

"Yang terpenting juga adalah pengembangan sumber daya manusia (SDM). Tanpa ada SDM yang baik, saya ragu urusan ini akan bisa melompat. Saya minta institusi pendidikan tinggi membantu para mahasiswa mengembangkan talenta mereka. Jangan dipagari terlalu banyak program studi yang sudah usang," pungkas Jokowi.