JAKARTA – Bulan Oktober ini dunia kerja tengah diguncang gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran yang melanda berbagai sektor, mulai dari logistik, teknologi, hingga manufaktur. Ribuan karyawan dari sejumlah perusahaan raksasa dunia kini kehilangan pekerjaan, menandakan pasar tenaga kerja global sedang melemah.
Gelombang terbesar datang dari UPS (perusahaan jasa logistik dan pengiriman paket global), yang mengumumkan PHK terhadap 48.000 karyawan di tengah upaya efisiensi dan digitalisasi proses logistik. Tak lama berselang, Amazon menyusul dengan rencana pemangkasan hingga 30.000 pekerja. Sektor teknologi juga tak luput dari badai. Intel tercatat akan memangkas 24.000 posisi, diikuti Microsoft dengan 7.000 karyawan, serta Meta yang kembali melakukan PHK terhadap 600 pekerja.
Terbaru di bidang otomotif ada General Motors (GM) yang mengumumkan langkah dramatis dengan memangkas produksi kendaraan listrik (EV) dan baterai di Amerika Serikat, serta merumahkan lebih dari 3.000 pekerjanya. Keputusan ini diambil pada Rabu, 29 oktober sebagai respons langsung terhadap perlambatan signifikan permintaan mobil bertenaga baterai di pasar AS.
另请阅读:
Pemangkasan dan Pengurangan Produksi
Dilaporkan Reuters, dikutip Kamis, 30 Oktober, GM menyatakan akan memangkas sekitar 1.200 pekerjaan pabrik di pabrik EV Detroit. Selain itu, perusahaan juga akan memberhentikan 550 karyawan tanpa batas waktu di pabrik baterai Ohio, sebuah usaha patungan dengan LG Energy Solution Korea Selatan.
GM juga mengumumkan penghentian sementara produksi sel baterai di dua pabrik patungan baterai AS (di Tennessee dan Ohio )selama kurang lebih enam bulan mulai Januari. Kebijakan ini akan berimbas pada pemutusan hubungan kerja sementara (layoff) terhadap sekitar 1.550 pekerja di fasilitas tersebut.
Di pabrik EV Detroit yang memproduksi truk pikap listrik besar seperti Chevrolet Silverado dan GMC Sierra, serta EV Escalade IQ dan Hummer SUV, GM akan memangkas produksi hingga sekitar 50 persen dengan mengurangi shift kerja menjadi hanya satu, berlaku mulai Januari.
GM menjelaskan bahwa pemotongan ini dilakukan "sebagai respons terhadap adopsi EV jangka pendek yang lebih lambat dan lingkungan regulasi yang terus berkembang."
Keputusan ini sejalan dengan pernyataan CEO GM, Mary Barra, pekan lalu yang menyebut, "Dengan kerangka regulasi yang berkembang dan berakhirnya insentif konsumen federal, jelas bahwa adopsi EV jangka pendek akan jauh lebih rendah dari yang direncanakan."
Kekhawatiran penurunan permintaan semakin besar seiring dengan berakhirnya kredit pajak federal sebesar 7.500 dolar AS untuk pembeli EV, yang membuat para eksekutif dan analis memperkirakan penjualan EV dapat turun hingga setengahnya dalam beberapa bulan mendatang.
Tren perlambatan ini tidak hanya menimpa GM. Produsen mobil lain di AS, termasuk Nissan dan Jeep-maker Stellantis, juga dilaporkan telah membatalkan rencana untuk model listrik masa depan mereka. GM sendiri sebelumnya telah membatalkan produksi van listrik BrightDrop, dengan alasan perkembangan yang lambat di pasar van EV komersial.
The English, Chinese, Japanese, Arabic, and French versions are automatically generated by the AI. So there may still be inaccuracies in translating, please always see Indonesian as our main language. (system supported by DigitalSiber.id)