JAKARTA - Ketua Banggar DPR Said Abdullah menilai, target Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2026 tidak akan jauh berbeda dari postur makroekonomi yang telah disepakati antara Pemerintah dan Banggar DPR sebelumnya.

Dia menyampaikan, pertumbuhan ekonomi diproyeksikan di kisaran 5,3 persen–5,4 persen, dan yakin akan lebih dekat ke angka atas, karena belanja negara bersifat counter-cyclical. 

Menurutnya, pemerintah akan terus mendorong belanja negara agar berdampam terhadap masyarakat maksimal.

"Kalau pertumbuhannya masih di sekitar 5 (persen)-5,4 (persen). Kita harapkan bisa 5,3 (persen)-5,4 (persen) lah (dalam) pidato Presiden (Prabowo) dalam nota keuangan," ujarnya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat 15 Agustus.

Sementara dari sisi penerimaan negara, ia memperkirakan akan berada di kisaran Rp3.145 triliun hingga Rp3.147 triliun, dan tidak akan jauh dari asumsi yang telah disepakati dalam pembahasan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF).

Sementara itu, Said menyampaikan defisit anggaran diprediksi akan diambil pada batas bawah, yaitu sekitar 2,48 persen dari PDB.

Said menilai dalam pidato Nota Keuangan Presiden Prabowo Subianto tahun ini akan menjadi sorotan, terutama karena masa transisi pemerintahan baru berjalan sekitar 10 bulan.

"Kalau melihat siapa yang kerja, karena ini memang transisi baru berjalan hampir 10 bulan. ada tanda-tanda perbaikan yang signifikan harus kita akui," ujar Said, Jumat, 15 Agustus. 

Dia menjelaskan pertumbuhan ekonomi nasional menunjukkan tren positif dimana pada kuartal I 2025, ekonomi tumbuh sebesar 4,87 persen, dan meningkat menjadi 5,12 persen pada kuartal II 2025.

Said berharap, memasuki tahun kedua pemerintahan Prabowo Subianto dapat membawa perubahan nyata, terutama dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). 

"Kita jujur saja terteter di bab SDM, sehingga apa pun yang kita effort lakukan oleh merentah, tetap kata kuncinya adalah bagaimana meningkatkan SDM kita menjadi SDM yang unggul," ujarnya. 

Said menambahkan, dalam pidato Nota Keuangan nanti, sebaiknya fokus diarahkan pada agenda-agenda fundamental pembangunan manusia, seperti yang tercantum dalam visi pembangunan jangka panjang (Asta Cita), yaitu Pendidikan untuk semua, Peningkatan kualitas layanan kesehatan yang inklusif, dan Penyediaan makan bergizi gratis (MBG) bagi pelajar.

Dia menjelaskan, jika program-program ini dijalankan secara simultan dan masif, sehingga bisa berharap Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Indonesia membaik. 

"Simultan ini dilaksanakan serentak, maka kita punya harapan ICOR kita akan jauh nantinya setidaknya samalah dengan Vietnam. Kalau Vietnam hari ini bisa 4,6, kita di 6,1, 6,2, maka dengan akselerasi program pemerintah itu bisa dicapai," tegasnya. 


The English, Chinese, Japanese, Arabic, and French versions are automatically generated by the AI. So there may still be inaccuracies in translating, please always see Indonesian as our main language. (system supported by DigitalSiber.id)