JAKARTA - Presiden Vladimir Putin mengatakan pada Hari Rabu, Rusia berhasil menguji torpedo super bertenaga nuklir Poseidon yang menurut para analis militer mampu menghancurkan wilayah pesisir dengan memicu gelombang laut radioaktif yang besar.
Hanya ada sedikit detail yang terkonfirmasi tentang Poseidon, tetapi pada dasarnya torpedo ini merupakan gabungan antara torpedo dan drone berkemampuan nuklir.
Presiden Putin, sambil menikmati teh dan kue di sebuah rumah sakit di Moskow bersama tentara Rusia yang terluka dalam perang Ukraina, mengatakan uji coba tersebut telah berlangsung pada Hari Selasa.
"Untuk pertama kalinya, kami berhasil tidak hanya meluncurkannya dengan mesin peluncur dari kapal selam pengangkut, tetapi juga meluncurkan unit tenaga nuklir yang telah digunakan perangkat ini selama beberapa waktu," kata Presiden Putin, melansir Reuters 29 Oktober.
"Tidak ada yang seperti ini," ujarnya, seraya menambahkan tidak ada cara untuk mencegat Poseidon, yang menurut para analis memiliki jangkauan 10.000 km (6.200 mil) dan dapat melaju dengan kecepatan sekitar 185 km per jam.
Diketahui, seiring Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperketat retorika dan sikapnya terhadap Rusia, Presiden Putin secara terbuka memamerkan kekuatan nuklirnya dengan uji coba rudal jelajah Burevestnik baru pada 21 Oktober dan latihan peluncuran nuklir pada 22 Oktober.
Uji coba Burevestnik dan Poseidon dimaksudkan untuk mengirimkan pesan yang jelas bahwa Rusia, menurut Presiden Putin, tidak akan pernah tunduk pada tekanan Barat terkait perang di Ukraina.
Bagi Presiden Trump, yang menyebut Rusia "macan kertas" karena gagal menaklukkan Ukraina dengan cepat, pesannya adalah Rusia tetap menjadi pesaing militer global, terutama dalam hal senjata nuklir, dan bahwa pendekatan Moskow terkait pengendalian senjata nuklir harus ditindaklanjuti.
Poseidon adalah senjata baru yang muncul di tengah apa yang digambarkan Presiden Putin sebagai perlombaan senjata global - terutama antara Amerika Serikat, Rusia dan Tiongkok - untuk memodernisasi dan mengembangkan persenjataan nuklir mereka.
Poseidon, yang dikenal di NATO sebagai Kanyon, memiliki panjang 20 meter, diameter 1,8 meter, dan berat 100 ton, menurut media Rusia.
Para pakar pengendalian senjata mengatakan senjata tersebut melanggar sebagian besar aturan pencegahan dan klasifikasi nuklir tradisional. Mereka memperkirakan senjata tersebut akan membawa hulu ledak dua megaton dan mungkin ditenagai oleh reaktor berpendingin logam cair.
SEE ALSO:
Presiden Putin mengatakan kekuatan Poseidon melampaui "bahkan rudal jarak antarbenua Sarmat kami yang paling menjanjikan", yang dikenal sebagai SS-X-29, atau Satan II.
Sejak pertama kali mengumumkan Poseidon dan Burevestnik pada tahun 2018, Presiden Putin telah menggambarkannya sebagai respons terhadap langkah AS untuk membangun perisai pertahanan rudal setelah Washington pada tahun 2001 secara sepihak menarik diri dari Perjanjian Rudal Anti-Balistik 1972 serta perluasan wilayah timur NATO.
Setelah uji coba Burevestnik oleh Rusia, Presiden Trump mengatakan Presiden Putin seharusnya mengakhiri perang di Ukraina alih-alih menguji rudal bertenaga nuklir.
The English, Chinese, Japanese, Arabic, and French versions are automatically generated by the AI. So there may still be inaccuracies in translating, please always see Indonesian as our main language. (system supported by DigitalSiber.id)