JAKARTA - Kelompok militan Palestina Hamas telah memberikan tanggapan sebagian dan awal kepada para mediator atas proposal gencatan senjata dan kesepakatan penyanderaan di Gaza, tetapi diperkirakan akan segera memberikan jawaban akhir, ungkap beberapa sumber kepada The National pada Hari Rabu.

Mereka mengatakan Hamas telah menyetujui tanpa syarat gencatan senjata 60 hari di mana bantuan kemanusiaan yang memadai akan memasuki Jalur Gaza, terutama melalui perlintasan Rafah dengan Mesir di selatan wilayah kantong yang dilanda perang tersebut.

"Hamas baru saja menyampaikan tanggapannya dan tanggapan faksi-faksi Palestina atas proposal gencatan senjata kepada para mediator," kelompok itu mengonfirmasi pada Hari Kamis, melansir The National 24 Juli.

Hamas juga telah menyetujui secara prinsip sebagian besar peta yang diajukan Israel untuk penempatan kembali pasukannya di Gaza, tetapi ingin mereka mundur dari Deir Al Balah di Gaza tengah – lokasi operasi militer besar yang sedang berlangsung oleh Israel – serta Khan Younis di selatan, kata sumber tersebut.

"Hamas sedang meninjau peta tersebut bersama faksi-faksi perlawanan lainnya di Gaza," kata salah satu sumber.

"Kami mengharapkan tanggapan akhir dan penuh dari Hamas dalam beberapa jam, tetapi itu bisa berubah," tambahnya.

Sumber-sumber tersebut berbicara ketika utusan Presiden AS Donald Trump untuk Timur Tengah Steve Witkoff, diperkirakan tiba di Eropa pada Hari Kamis dan Qatar pada hari Jumat, sebuah tanda yang sebelumnya ditafsirkan sebagai tanda kesepakatan telah tercapai.

Namun, optimisme mediator dari Qatar, Mesir dan AS hampir mencapai kesepakatan dengan Israel dan Hamas sebelumnya terbukti prematur karena sikap keras kepala Israel dan Hamas.

Terpisah, Presiden Israel Isaac Herzog menyampaikan pesan optimistis pada Hari Rabu saat berkunjung ke Gaza, memberi tahu para tentara ada "negosiasi intensif" tentang pengembalian para sandera yang ditawan di sana.

Ia mengatakan berharap para tentara akan segera "mendengar kabar baik", menurut pernyataan dari perwakilan Presiden.

Namun, Hamas belum memberikan daftar akhir nama ratusan warga Palestina yang ingin dibebaskan dari penjara Israel sebagai bagian dari kesepakatan tersebut, kata mereka.

Daftar tersebut kemungkinan akan mencakup warga Palestina terkemuka yang menjalani hukuman penjara panjang yang ingin dibebaskan Hamas, tetapi Israel bersikeras untuk tetap memenjarakan mereka, kata mereka.

Daftar itu kemungkinan termasuk Marwan Barghouti, seorang pemimpin senior faksi Fatah arus utama yang secara luas digadang-gadang akan menjadi penerus Presiden Mahmoud Abbas.

Hamas juga diharapkan memberikan tenggat waktu akhir kepada para mediator untuk pembebasan 10 sandera Israel dan jenazah 18 orang lainnya yang tewas dalam penahanan, menurut sumber tersebut.

Hamas sebelumnya telah mengusulkan pembebasan para sandera secara bertahap selama gencatan senjata 60 hari untuk memastikan kepatuhan Israel terhadap ketentuan perjanjian, tetapi tampaknya Israel telah menolak tenggat waktu tersebut dan mengusulkan alternatif, yang sedang ditinjau Hamas.

Hamas diyakini menyandera sekitar 50 orang, 20 di antaranya diperkirakan masih hidup oleh militer Israel.

Selain gencatan senjata dan aliran bantuan ke Gaza, di mana kelaparan semakin merenggut nyawa, ketentuan-ketentuan utama dari proposal terbaru tersebut mencakup diskusi tentang gencatan senjata jangka panjang dan penarikan penuh Israel.

Hamas menginginkan jaminan Negeri Paman Sam, bahwa perundingan ini akan berlanjut hingga tercapai kesepakatan, tetapi sumber-sumber tersebut mengatakan Hamas tampaknya telah mengabaikan persyaratan tersebut.

militer israel di gaza
Militer Israel di Jalur Gaza. (Sumber: IDF)

Israel, lebih lanjut, bersikeras perang di Gaza tidak akan berakhir sampai kemampuan militer dan pemerintahan Hamas sepenuhnya dilucuti dan semua sandera dibebaskan.

Israel juga menuntut agar Hamas meletakkan senjatanya dan para pemimpinnya meninggalkan wilayah tersebut untuk tinggal di pengasingan bersama keluarga mereka.

Hamas menolak tuntutan Israel untuk menyerahkan senjatanya, sebaliknya menyatakan mereka terbuka untuk berdiskusi tentang meletakkan senjata dan menyimpannya di bawah pengawasan internasional ketika gencatan senjata jangka panjang diberlakukan.

Mereka juga telah menyetujui pengasingan para pemimpinnya dengan syarat mereka dan keluarga mereka tidak diserang oleh Israel.

Diketahui, konflik terbaru di Gaza pecah usai kelompok militan Palestina menyerang wilayah selatan Israel pada 7 Oktober 2023, menyebabkan 1.200 orang tewas dan 251 lainnya disandera menurut perhitungan Israel, dikutip dari Reuters.

Itu dibalas Israel dengan melakukan blokade, serangan udara hingga operasi militer di wilayah Jalur Gaza.

Israel dan kelompok militan Palestina menyepakati gencatan senjata serta pertukaran sandera dan tahanan pada 19 Januari. Setidaknya 20 dari 50 sandera yang tersisa di Gaza diyakini masih hidup. Mayoritas sandera awal telah dibebaskan melalui negosiasi diplomatik, meskipun militer Israel juga telah membebaskan beberapa sandera.

Pada 2 Maret, Israel kembali melakukan blokade total terhadap Gaza dengan dalih menekan kelompok militan Palestina untuk menyepakati gencatan senjata usulan Amerika Serikat dan pertukaran sandera-tahanan. Seiring berakhirnya kesepakatan gencatan senjata, Israel kembali menggelar operasi militer di Gaza pada 18 Maret.

Hingga kemarin, korban tewas Palestina di Jalur Gaza sejak konflik terbaru pecah telah mencapai 59.219 jiwa, sementara 143.045 lainnya luka-luka, menurut sumber medis di Gaza, dikutip dari WAFA.


The English, Chinese, Japanese, Arabic, and French versions are automatically generated by the AI. So there may still be inaccuracies in translating, please always see Indonesian as our main language. (system supported by DigitalSiber.id)

Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+