Yordania hingga Indonesia Bahas Ulah Israel Terhadap Situs Suci Islam dan Kristen di Yerusalem

JAKARTA - Menteri Luar Negeri sejumlah negara Arab dan Muslim menggelar pertemuan di Amman, Yordania pada Hari Rabu, untuk membahas ulah Israel di Yerusalem yang berdampak pada situs-situs Islam dan Kristen di sana, khususnya Masjid Al Aqsa.

Dalam unggahan di media sosial X Kementerian Luar Negeri Yordania mengatakan, pertemuan yang digelar oleh Amman tersebut bertujuan "untuk merumuskan posisi bersama dalam menghadapi tindakan Israel yang semakin meningkat dan ilegal yang menargetkan identitas Yerusalem dan situs-situs suci Islam dan Kristen di sana."

Dalam pidato pembukanya Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri dan Ekspatriat Yordania Ayman Safadi mengatakan Yerusalem serta situs suci Islam dan Kristen disana terancam seiring dengan langkah Israel memperkuat pendudukan ilegalnya di Yerusalem Timur.

"Mereka membangun permukiman, mencaplok tanah, menyita properti, membatasi pergerakan warga Palestina di Yerusalem, dan memisahkan kota itu dari wilayah Palestina yang diduduki lainnya, sebagai implementasi rencana yang menargetkan identitas, sejarah, masa kini, dan masa depan kota tersebut," kata Menlu Safadi dalam cuitan Kemlu Yordania di X, seperti dikutip (5/8).

"Israel melanggar kesucian situs-situs suci Islam dan Kristen serta membatasi kebebasan beribadah bagi umat Muslim dan Kristen," tegasnya.

Lebih jauh ia mengatakan, kebijakan provokatif Israel menargetkan Masjid Al Aqsa atau Haram Al-Sharif "dengan serangan sistematis yang belum pernah terjadi, meningkat secara kuantitas maupun kualitas."

Dikatakannya, itu merupakan upaya "untuk merusak identitas Islamnya dan mengubah status quo istoris."

"Pemerintah Israel menerapkan tindakan ilegalnya di Yerusalem dan situs-situs sucinya sebagai bagian dari kebijakan yang lebih luas untuk memperkuat pendudukan Tepi Barat dan melemahkan solusi dua negara, yang merupakan satu-satunya jalan yang layak menuju perdamaian yang adil," jelasnya.

"Kebijakan ini mendorong Tepi Barat menuju ledakan, melanggar perjanjian gencatan senjata di Gaza, dan menghalangi pelaksanaan rencana presiden AS untuk menstabilkan Jalur Gaza," Menlu Safadi memperingatkan.

Ia menekankan, konflik Arab-Israel, yang akar penyebabnya adalah pendudukan ilegal Israel atas Palestina, tidak pernah menjadi konflik agama.

"Namun, dengan melanggar kesucian Masjid Al-Aqsa dan berupaya merusak identitasnya, pemerintah Israel mendorong kawasan tersebut menuju konflik agama, yang memicu seruan untuk jihad global guna melindungi salah satu dari tiga situs tersuci bagi hampir dua miliar umat Muslim," tegasnya.

Ia mengatakan pertemuan pada Hari Rabu bertujuan sebagai "alarm dan menyerukan komunitas internasional untuk bertindak tegas dan jelas guna menghentikan pelanggaran Israel di Yerusalem dan tempat-tempat sucinya."

"Kami menyerukan kepada komunitas internasional untuk bertindak sebelum terlambat, agar Yerusalem dapat menjadi kota harmoni dan gerbang menuju perdamaian sebagaimana mestinya, bukan arena penindasan, penaklukan, dan ketidakadilan seperti yang telah terjadi selama pendudukan," seru Menlu Safadi.

Dikutip dari The National, pertemuan ini memperkuat posisi Amman sebagai penjaga Masjid Al-Aqsa, salah satu situs paling suci dalam Islam.

Hadir dalam pertemuan ini Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, Wakil Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri Pakistan Mohammad Ishaq Dar, Wakil Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri Irak Dr. Fuad Hussein, Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan, Menteri Luar Negeri dan Komunitas Nasional Aljazair Ahmed Attaf, Menteri Luar Negeri, Kerja Sama Internasional dan Warga Mesir di Luar Negeri Dr. Badr Abdel-Aty, Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan, Menteri Luar Negeri Tunisia Mohamed Ali Nafti, Menteri Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional Somalia Abdisalam Abdi Ali, Menteri Luar Negeri dan Ekspatriat Palestina Farsin Aghabekian, Menteri Kehakiman Maroko Abdelatif Ouahbi, Sekretaris Jenderal Liga Arab Nabil Fahmy, Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia Arrmanatah Nasir, serta Armanatha Sy Nasir, dan Wakil Sekretaris Jenderal Kementerian Luar Negeri Malaysia Duta Besar Dr. Ahmad Faisal Mohamed.

Negara-negara yang hadir merupakan bagian dari komite yang dibentuk Liga Arab pada tahun 2017 untuk menentang langkah ilegal Israel, khususnya di Masjid Al Aqsa,

Kompleks Masjid Al Aqsa dikelola oleh sebuah badan wakaf Islam yang didanai dan dikendalikan oleh Yordania dalam sebuah pengaturan keamanan dengan Israel setelah kedua pihak menandatangani perjanjian damai pada tahun 1994.

Berdasarkan pengaturan tersebut, umat Yahudi tidak diperbolehkan berdoa di dalam area kompleks, namun dapat berdoa di Tembok Ratapan yang terletak di dekatnya.

Lahan tempat Al-Aqsa berdiri dianggap suci oleh umat Islam, Yahudi, dan Kristen, serta menjadi titik pusat ketegangan antara Israel dan Palestina.

Klaim Yordania atas hak untuk Pengelolaan Al-Aqsa didasarkan pada hak perwalian yang diberikan pada tahun 1920-an oleh para pemimpin agama Palestina kepada Sharif Hussein bin Ali - buyut Raja Abdullah - yang memimpin upaya penggalangan dana di Timur Tengah dan wilayah lainnya untuk merenovasi masjid tersebut. Ia wafat pada tahun 1931 dan dimakamkan di kompleks Al-Aqsa.