Hilang Penciuman tapi Masih Bisa Merasakan Makanan, Ketahui Penyebab dan Pengobatannya

YOGYAKARTA - Setiap pagi Anda mungkin terbiasa menghirup aroma kopi atau wangi nasi goreng yang baru matang. Tapi bagaimana jika tiba-tiba aroma itu lenyap, dan hidung tak bisa mencium bau apapun? Kondisi ini disebut anosmia, yaitu hilangnya kemampuan mencium bau, baik secara tiba-tiba maupun bertahap.

Meski terdengar sederhana, anosmia bisa berdampak besar pada kualitas hidup seseorang. Uniknya, sebagian orang yang mengalami anosmia mengaku masih bisa merasakan makanan. Lalu, bagaimana hal ini bisa terjadi?

Anosmia bisa muncul dalam derajat yang berbeda-beda. Ada yang kehilangan daya penciumannya secara total, tapi ada pula yang hanya mengalami hiposmia atau penurunan sebagian kemampuan mencium bau. Selain itu, anosmia kadang juga muncul bersama dengan ageusia, yaitu hilangnya kemampuan lidah dalam mengecap rasa.

Namun, tidak semua penderita anosmia otomatis kehilangan kemampuan mengecap makanan. Banyak orang tetap bisa merasakan rasa dasar seperti manis, asin, pahit, dan asam meskipun penciuman terganggu. Dilansir dari berbagai sumber, berikut beberapa hal yang perlu Anda ketahui soal Anosmia.

Gejala dan Penyebab Anosmia

Ilustrasi menguji indra penciuman (Pinterest/Health Digest)

Gejala utama anosmia tentu saja adalah hilangnya kemampuan untuk mencium bau. Namun, gejalanya bisa bervariasi. Sebagian orang hanya bisa mencium bau samar-samar, sebagian lain mengalami perubahan persepsi terhadap bau. Misalnya, aroma kopi yang biasanya nikmat bisa tercium seperti logam atau bahkan busuk.

Ada banyak penyebab anosmia. Salah satu yang paling umum adalah hidung tersumbat akibat flu, sinusitis, atau alergi. Penyakit seperti COVID-19 juga dikenal menyebabkan hilangnya penciuman, bahkan kadang menjadi gejala awal. Faktor lain meliputi efek samping obat-obatan, cedera kepala, kekurangan zat besi, penyakit degeneratif seperti Alzheimer dan Parkinson, serta penyakit kronis seperti diabetes.

Bertambahnya usia juga bisa mengurangi sensitivitas penciuman. Inilah sebabnya banyak lansia merasa makanan menjadi kurang enak seiring bertambahnya usia.

Diagnosa dan Pengobatan

Untuk mendiagnosis anosmia, dokter biasanya akan melakukan uji sederhana dengan menempatkan benda beraroma kuat di bawah hidung, seperti kopi atau parfum, lalu pasien diminta mengidentifikasi aromanya. Jika diperlukan, dokter bisa melanjutkan dengan pemeriksaan lebih lanjut seperti endoskopi hidung, CT scan, MRI, atau tes darah untuk mengetahui penyebab yang mendasarinya.

Pengobatan anosmia bergantung pada penyebabnya. Jika penyebabnya adalah infeksi virus, misalnya flu atau demam, maka anosmia bisa sembuh sendiri dalam beberapa hari hingga minggu. Dokter mungkin hanya memberikan obat untuk meredakan peradangan atau sumbatan pada hidung. Bila anosmia disebabkan oleh polip hidung atau kelainan struktural, maka tindakan medis atau pembedahan bisa jadi diperlukan.

Ada pula metode pelatihan penciuman atau smell training, yaitu dengan mencium beberapa jenis aroma yang berbeda secara rutin untuk merangsang kembali saraf penciuman. Cara ini cukup efektif bagi sebagian orang untuk mempercepat pemulihan penciuman.

Komplikasi dan Dampaknya

Meski tampak sepele, anosmia bisa menimbulkan berbagai komplikasi. Kehilangan penciuman dapat mengurangi nafsu makan karena makanan terasa hambar, sehingga bisa memicu kekurangan gizi. Selain itu, penderita anosmia juga lebih rentan mengalami keracunan makanan karena tidak bisa mencium bau basi.

Dari sisi keamanan, hilangnya kemampuan mencium bau bisa membahayakan. Misalnya, tidak dapat mencium bau asap kebakaran, gas bocor, atau bahan kimia berbahaya. Secara sosial, anosmia juga bisa memicu rasa tidak percaya diri karena tidak mampu mendeteksi bau badan sendiri atau pasangan. Bahkan, kondisi ini juga bisa memicu gangguan suasana hati, termasuk kecemasan dan depresi.

Pencegahan dan Kapan Harus ke Dokter

Mencegah anosmia berarti menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan. Hindari merokok, paparan zat kimia berbahaya, serta perhatikan keamanan saat beraktivitas agar tidak terjadi cedera kepala. Jika mengalami flu atau infeksi saluran pernapasan, segera obati dengan benar agar tidak memicu komplikasi ke saraf penciuman.

Segera periksa ke dokter jika Anda tiba-tiba kehilangan kemampuan mencium bau tanpa alasan jelas, terutama jika berlangsung lebih dari beberapa hari. Dengan pemeriksaan menyeluruh, dokter bisa mengetahui penyebabnya dan memberikan penanganan yang sesuai, bahkan jika perlu, merujuk ke spesialis THT.

Singkatnya, kehilangan penciuman bisa sangat memengaruhi kehidupan seseorang. Namun, dengan penanganan yang tepat dan kesadaran sejak dini, kondisi ini bisa diatasi atau setidaknya diminimalkan dampaknya. Meski Anda masih bisa merasakan makanan tanpa mencium baunya, jangan abaikan anosmia, karena bisa menjadi petunjuk penting adanya gangguan kesehatan yang lebih serius.