Olahraga Berlebihan Bisa Gagal Ginjal, Ini Alasannya

JAKARTA - Olahraga memang penting untuk menjaga kesehatan tubuh. Jika olahraga dilakukan terlalu keras dan tanpa istirahat yang cukup, justru bisa berakibat fatal. Salah satu risiko serius dari olahraga berlebihan adalah gagal ginjal. Hal ini disebabkan oleh kondisi bernama rhabdomyolysis.

Rhabdomyolysis atau biasa disingkat rhabdo terjadi saat otot terlalu dipaksa bekerja, lalu jaringan otot rusak dan melepaskan protein seperti creatine kinase (CK) dan myoglobin ke dalam aliran darah yang bisa merusak ginjal.

Gejalanya bisa berupa nyeri otot, lemas berlebihan, urin  berwarna gelap dan keruh. Dalam kasus cukup parah, orang tersebut bisa sampai tidak bisa buang air kecil sama sekali.

"Rhabdomyolysis karena olahraga berat bisa terjadi setelah latihan intensitas tinggi yang membuat otot bekerja terlalu keras,” kata Dr. Niloofar Nobakht, profesor klinis nefrologi, dikutip VOI dari laman UCLA Health pada Minggu, 6 April.

"Rhabdo juga bisa disebabkan oleh cedera langsung, seperti kecelakaan mobil atau jatuh," lanjutnya

Siapa saja bisa terkena rhabdo, tapi risikonya lebih tinggi pada atlet, pelari, dan orang-orang dengan profesi tertentu. Kelompok yang rentan terkena rhabdo adalah atlet, pemadam kebakaran, polisi, hingga anggota militer

Penderita rhabdomyolysis bisa mengalami gagal ginjal dan mungkin perlu menjalani terapi pengganti ginjal. Namun menurut Dr. Nobakht, kondisi ini bisa diatasi jika cepat ditangani.

"Kita biasanya mulai dengan cairan infus dan memantau elektrolit seperti kalium, fosfor, dan kalsium,” jelas Dr. Nobakht.

"Kalium dan kalsium adalah dua elektrolit utama yang sangat penting dalam proses pemulihan fungsi otot," tambahnya.

Sebagai dokter spesialis ginjal, Dr. Nobakht juga menjelaskan mereka akan memantau keseimbangan cairan, elektrolit, dan kadar asam-basa tubuh pasien. Kadar asam darah yang tinggi bisa jadi tanda ginjal tidak bekerja dengan baik.

Overtraining adalah latihan berlebihan. Ini terjadi ketika tubuh mengalami tekanan fisik yang terlalu berat tanpa cukup waktu untuk pemulihan. Awalnya, stres dari olahraga memang bisa merangsang tubuh untuk menjadi lebih kuat dan bertenaga. Tapi jika dilakukan terus-menerus tanpa istirahat yang cukup, justru bisa merusak keseimbangan tersebut.

Liz Au, koordinator FITWELL dari UCLA Recreation mengatakan kurangnya jeda istirahat antar sesi olahraga bisa menyebabkan overtraining dan kerusakan otot, tergantung pada kondisi individu serta seberapa berat latihannya.

"Ketidakseimbangan antara latihan dan istirahat bisa berdampak buruk pada tubuh,”kata Au.

"Overtraining syndrome itu sebenarnya diagnosis medis, tapi tidak ada tes tunggal untuk mengetahuinya. Yang jelas, ini bisa mengganggu fungsi tubuh secara keseluruhan," tambahnya.

Overtraining bisa menyebabkan ketidakseimbangan hormon seperti kortisol, testosteron, dan hormon pertumbuhan. Ketidakseimbangan ini bisa mengganggu metabolisme dan pertumbuhan otot.

Selain itu, tubuh yang terus dipaksa tanpa istirahat cukup mengalami penurunan daya tahan tubuh. Hal ini membuat Anda lebih mudah sakit dan lama pulih.

Gejala overtraining lainnya termasuk penurunan performa. Alih-alih menjadi lebih kuat, terlalu banyak latihan tanpa istirahat justru bisa menyebabkan kelelahan, penurunan kekuatan dan daya tahan.

Overtraining juga berdampak pada kesehatan mental. Hal ini bisa menyebabkan mudah marah, cemas, depresi, dan kualitas tidur yang buruk.

"Overtraining bisa menyebabkan banyak gejala, dan kunci untuk mencegahnya adalah mendengarkan tubuh, perhatikan tanda-tanda kelelahan, nyeri otot terus-menerus, atau performa yang menurun. Istirahat dan pemulihan adalah bagian penting dari program latihan apa pun," ujar Au.

Au juga memberikan beberapa tips agar tetap sehat dan bugar tanpa overtraining:

- Rencanakan hari istirahat

Sertakan hari-hari tanpa olahraga agar tubuh bisa pulih dan beradaptasi.

- Gunakan metode periodization

Ini adalah metode latihan dengan variasi intensitas dan volume, sehingga ada masa untuk pemulihan aktif.

- Prioritaskan tidur

Tidur berkualitas sangat penting untuk proses pemulihan tubuh. Usahakan tidur 7–9 jam setiap malam.

- Perhatikan asupan nutrisi dan cairan

Makan seimbang dan cukup minum juga sangat penting untuk performa dan pemulihan tubuh.

"Olahraga memang penting, tapi harus dilakukan dengan cara yang aman," tegas Dr. Nobakht.

"Minum cukup cairan, hindari panas berlebihan, tingkatkan intensitas latihan secara bertahap, dan jangan lupa istirahat. Kunci kebugaran yang optimal adalah menyeimbangkan tantangan dengan kebutuhan tubuh untuk pulih." lanjutnya.