JAKARTA - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menilai penggunaan kecerdasan buatan yang semakin masif berisiko menggerus kemampuan berpikir kritis, terutama di kalangan pelajar dan profesional.
Menurutnya, kekhawatiran tersebut sudah mulai terjadi di dunia pendidikan. Maka dari itu, Nezar menegaskan pengembangan talenta digital tidak bisa hanya fokus pada kemampuan teknis.
BACA JUGA:
“Jangan sampai kita kehilangan daya kritis karena semua diserahkan kepada AI. Itu sudah mulai terjadi di dunia pendidikan,” ujarnya dikutip Senin, 20 April.
Nezar mengatakan, talenta masa depan harus memahami bagaimana berinteraksi dengan AI secara tepat, mampu mengendalikan penggunaannya, dan juga mengedepankan prinsip bahwa desain AI harus menempatkan manusia sebagai pusat.
“Desain AI harus human-centric agar teknologi yang dikembangkan memberi dampak positif pada manusia. Dalam pengambilan keputusan, AI harus tetap menempatkan manusia sebagai pusat melalui pendekatan human in the loop,” jelasnya.
Tidak hanya itu, Nezar juga menyoroti kecenderungan penggunaan AI yang serba instan. Ia menilai kondisi ini berpotensi melemahkan kemampuan analisis dan penilaian etis jika tidak diimbangi dengan kesadaran penggunaan.
Oleh karena itu, menurutnya talenta digital harus tetap mampu mengevaluasi setiap output AI secara kritis. Karena, kemampuan berpikir dan mengambil keputusan tidak boleh sepenuhnya dialihkan ke mesin.