JAKARTA — OpenAI secara resmi mendesak otoritas hukum di negara bagian California dan Delaware untuk menyelidiki dugaan perilaku anti-kompetitif yang dilakukan oleh Elon Musk dan para mitranya, di tengah memanasnya konflik hukum antara dua kekuatan besar di industri kecerdasan buatan.
Langkah ini muncul hanya beberapa minggu sebelum persidangan antara kedua pihak dijadwalkan dimulai pada April 2026, dalam kasus yang berpotensi menjadi salah satu sengketa paling berdampak dalam sejarah industri AI.
BACA JUGA:
Dalam surat yang dikirim kepada Jaksa Agung California Rob Bonta dan Jaksa Agung Delaware Kathy Jennings, OpenAI menilai gugatan yang diajukan Musk mengandung unsur “perilaku tidak pantas dan anti-kompetitif”.
Konflik ini berakar dari gugatan Musk pada 2024 terhadap OpenAI dan CEO-nya, Sam Altman, yang menuduh perusahaan tersebut menyimpang dari misi awalnya sebagai organisasi nirlaba dengan bertransformasi menjadi entitas berorientasi profit.
Musk, yang merupakan salah satu pendiri OpenAI pada 2015 sebelum keluar pada 2018, kini memimpin perusahaan AI pesaing melalui xAI dengan chatbot andalannya Grok.
Dalam dokumen pengadilan sebelumnya, OpenAI juga mengungkap bahwa Musk sempat mencoba menggandeng Mark Zuckerberg untuk bergabung dalam konsorsium yang berupaya mengambil alih OpenAI, meski upaya tersebut tidak berhasil.
OpenAI menyoroti nilai gugatan yang diajukan Musk, yang disebut mencapai lebih dari 100 miliar dolar AS terhadap yayasan nirlaba mereka. Perusahaan menilai tuntutan tersebut berpotensi “melumpuhkan organisasi secara efektif”.
Kepala strategi OpenAI, Jason Kwon, dalam suratnya menegaskan bahwa gugatan tersebut dapat menghambat upaya perusahaan dalam memastikan pengembangan artificial general intelligence (AGI) tetap memberikan manfaat luas bagi umat manusia.
“Gugatan ini berisiko merusak upaya kami untuk memastikan bahwa AGI memberikan manfaat bagi seluruh umat manusia,” tulis Kwon.
Ia juga mengkritik otoritas regulator yang dinilai belum melakukan investigasi menyeluruh terhadap rencana restrukturisasi OpenAI. “Dokumen yang diajukan Musk menunjukkan bahwa kantor Anda mungkin tidak melakukan penyelidikan secara mendalam dan hanya mengandalkan janji-janji mengenai langkah OpenAI di masa depan,” tambahnya.
Sementara itu, pengadilan di Oakland, California, pada Januari 2026 telah memutuskan bahwa kasus ini akan disidangkan di hadapan juri, dengan proses persidangan dijadwalkan dimulai bulan ini.
Sengketa ini mencerminkan meningkatnya tensi di industri AI global, di mana persaingan tidak hanya terjadi pada level teknologi, tetapi juga menyangkut kontrol, arah etika, dan masa depan pengembangan AGI.