Bagikan:

JAKARTA - Kasus lama kembali menghantam dengan dampak baru. Para korban Jeffrey Epstein menggugat Google dan pemerintahan Donald Trump atas dugaan penyebaran data pribadi sensitif yang memicu trauma ulang dan gelombang pelecehan.

Gugatan class action yang diajukan di pengadilan federal California itu menuding Department of Justice telah secara tidak sengaja mengungkap identitas sekitar 100 korban pada akhir 2025 hingga awal 2026.

Meski data tersebut kemudian ditarik, para penggugat menyebut dampaknya sudah telanjur meluas di internet—dan sulit dihentikan.

AI Jadi Sorotan Baru

Dalam dokumen gugatan, korban menilai sistem pencarian dan fitur AI milik Google tetap menampilkan informasi sensitif tersebut, bahkan setelah upaya penghapusan dilakukan.

Mereka menuduh teknologi AI tidak hanya mengindeks, tetapi juga memperkuat penyebaran data melalui ringkasan otomatis dan hasil pencarian, sehingga informasi tetap mudah diakses publik.

Akibatnya, para korban mengaku menerima ancaman, pesan tidak diinginkan, hingga tuduhan palsu—yang memperparah kondisi psikologis mereka setelah kasus Epstein.

Gugatan ini juga menyerang perlindungan hukum yang selama ini dinikmati platform digital melalui Section 230. Para penggugat berargumen bahwa AI bukan sekadar “perantara pasif”, melainkan ikut menghasilkan dan menyebarkan konten berbahaya.

Kasus ini muncul di tengah tekanan yang semakin besar terhadap perusahaan teknologi, termasuk Meta dan platform seperti YouTube, terkait dampak nyata konten digital di dunia nyata.

Sejumlah pejabat, termasuk Raúl Torrez, sebelumnya telah memberi sinyal bahwa gelombang gugatan semacam ini bisa mendorong perubahan regulasi—terutama dalam mengatur tanggung jawab AI.

Sidang pertama kasus ini belum dimulai, namun jika pengadilan memihak korban, konsekuensinya bisa besar. Selain potensi denda miliaran dolar, putusan tersebut juga berpeluang mengubah fondasi hukum internet—terutama soal siapa yang bertanggung jawab atas konten yang dihasilkan AI.

Ikuti Whatsapp Channel VOI

Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+