Bagikan:

JAKARTA — Persidangan besar yang mempertemukan raksasa teknologi Google dan Meta dengan tuduhan memicu kecanduan media sosial memasuki fase krusial. Ini terjadi, setelah juri menyatakan kesulitan mencapai keputusan bulat.

Dalam sidang yang digelar di Los Angeles, juri pada Senin 23 Maret waktu setempat mengaku buntu dalam menentukan putusan terhadap salah satu terdakwa. Namun, mereka tidak mengungkap secara spesifik apakah kebuntuan itu terkait Google atau Meta.

Hakim Carolyn B. Kuhl merespons dengan meminta juri tetap berupaya mencapai vonis jika memungkinkan. Ia menegaskan, jika kebuntuan berlanjut, maka persidangan harus diulang dengan panel juri baru. Hal itu adalah sebuah skenario yang berpotensi memperpanjang pertarungan hukum berprofil tinggi ini.

Kasus ini sendiri telah memasuki masa deliberasi lebih dari sepekan. Gugatan diajukan oleh seorang perempuan muda yang mengklaim dirinya mengalami kecanduan sejak usia dini akibat penggunaan platform YouTube milik Google serta Instagram yang dimiliki Meta.

Perkara ini tidak sekadar soal satu individu. Putusan akhirnya berpotensi menjadi preseden penting bagi ribuan gugatan serupa yang kini mulai bermunculan di berbagai wilayah Amerika Serikat. Para orang tua, jaksa agung, hingga distrik sekolah disebut tengah memantau jalannya kasus ini sebagai acuan untuk langkah hukum berikutnya.

Jika juri gagal mencapai konsensus, bukan cuma sidang yang diulang—tapi juga membuka peluang bagi gelombang gugatan baru yang bisa makin menekan industri teknologi global.