JAKARTA - Rumor terbaru yang beredar dari ekosistem Apple kembali memicu perbincangan: iPhone Fold diperkirakan akan hadir tanpa slot kartu SIM fisik dan sepenuhnya mengandalkan eSIM.
Kabar ini tampak mengejutkan bagi sebagian orang, namun bagi banyak pengamat hal tersebut justru dianggap sudah sangat logis. Pasalnya perangkat itu diyakini akan mengadopsi fondasi teknologi dari iPhone Air yang memang eSIM-only.
iPhone Air masih menjadi perangkat kontroversial sejak diperkenalkan karena hanya mendukung eSIM, sebuah keputusan yang membawa konsekuensi langsung terhadap penetrasi pasar global. Kebijakan ini bahkan menyebabkan peluncuran perangkat tersebut di China tertunda hingga pertengahan Oktober akibat hambatan regulasi setempat.
Nasib serupa kemungkinan menanti iPhone Fold. Sumber rumor populer Instant Digital membagikan klaim di Weibo, yang kemudian dikutip MacRumors, bahwa perangkat lipat Apple itu “memiliki probabilitas besar tidak memiliki kartu SIM.” Ungkapan tersebut lebih terdengar seperti tebakan terinformasi ketimbang bocoran teknis, namun cukup untuk kembali menghangatkan diskusi.
BACA JUGA:
Sang pembocor juga berharap agar pengalaman penggunaan eSIM di China bisa segera diperbaiki. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa konsumen smartphone di China sangat menyukai kartu SIM fisik, tetapi preferensi tersebut tidak tampak menghambat minat terhadap iPhone Air.
Perangkat ultra-tipis dan ultra-ringan itu justru laku keras di negara tersebut, mencatatkan habis terjual hanya beberapa menit setelah pra-pemesanan dibuka. Minat besar itu menunjukkan bahwa desain dan bentuk baru kadang lebih kuat daya tariknya dibanding kekhawatiran soal eSIM.
Meskipun demikian, masih ada suara-suara skeptis yang menyebut iPhone Air tidak diterima dengan baik. Namun data konkret yang mendukung klaim tersebut terbilang sangat minim. Laporan tentang pemotongan produksi pun kembali bermunculan, sebuah fenomena yang sudah terjadi hampir setiap tahun dan kerap kali dilebih-lebihkan tanpa konteks menyeluruh.
CEO Apple, Tim Cook, sebelumnya sudah berkali-kali menegaskan bahwa membaca performa penjualan perangkat hanya dari satu bagian rantai pasokan adalah cara paling menyesatkan. Ia mengumpamakan hal itu seperti mencoba menggambarkan seekor gajah dengan mata tertutup: hasil deskripsinya akan berbeda tergantung bagian mana yang disentuh, entah belalai atau kakinya. Dengan kata lain, laporan-laporan parsial itu tidak cukup untuk memberikan gambaran akurat mengenai kinerja suatu produk.
Di sisi lain, laporan lain justru menyebut bahwa Apple tidak berencana mengurangi produksi iPhone Air. Mana pun yang benar, semua informasi tersebut tetap tidak mampu menggambarkan keseluruhan kompleksitas rantai pasokan Apple maupun sasaran internal perusahaan.
Namun satu hal tampak jelas: iPhone Air bukanlah produk gagal, dan keputusannya untuk hanya menggunakan eSIM ternyata tidak menjadi hambatan berarti — bahkan di pasar yang sangat mengandalkan kartu SIM fisik seperti China.
Oleh karena itu, banyak pihak meyakini bahwa iPhone Fold juga akan mengadopsi pendekatan serupa, dan keputusan itu kemungkinan besar tidak akan menjadi faktor penentu nasib perangkat tersebut.
iPhone Fold diperkirakan menjadi perangkat mahal dengan volume produksi rendah dan margin tipis, sebuah kategori yang jarang dimasuki Apple. Pasar ini mirip dengan posisi Mac Pro — eksklusif, tidak massal, namun tetap strategis dari perspektif inovasi.
Sementara itu, iPhone Air sendiri merupakan perangkat yang penuh kompromi, kontroversial bagi sebagian pengguna, tetapi tetap menarik bagi pasar. iPhone Fold kemungkinan akan melanjutkan kompromi-kompromi itu: spesifikasi yang lebih rendah dari iPhone Pro, harga yang lebih tinggi, dan fungsi yang berubah menjadi seperti iPad mini ketika dibuka, bukan iPad Pro.
Terlepas dari perdebatan soal angka penjualan iPhone Air maupun peluang keberhasilan iPhone Fold, satu fakta tidak terbantahkan: bahkan penjualan terendah Apple sekalipun tetap menjadi standar irinya dunia industri.
iPhone Fold diperkirakan akan meluncur pada musim gugur tahun 2026, dan apakah perangkat itu akan menjadi produk revolusioner atau kontroversial, pasar global tampaknya bersiap kembali menyaksikan Apple mengguncang industri smartphone.