JAKARTA - InDrive, perusahaan penyedia layanan transportasi online internasional akan segera meluncurkan metode pembayaran non-tunai langsung di aplikasinya pada tahun 2026.
Saat ini, layanan inDrive hanya menerima pembayaran secara tunai dan transfer langsung ke pengemudi di luar aplikasi. Namun, melihat banyaknya permintaan akan pembayaran non-tunai di aplikasi, inDrive akan segera menghadirkannya.
inDrive memang tertinggal terkait pembayaran non-tunai di aplikasi dibandingkan pesaingnya. Namun, Country Manager inDrive Indonesia, Rio Aristo, menjelaskan bahwa proses menuju sistem pembayaran cashless memerlukan waktu.
Menurutnya, jika melibatkan kerja sama dengan pihak ketiga, selain memastikan perusahaan tersebut berlisensi resmi, mereka juga harus memikirkan biaya tambahan seperti fee aplikasi atau fee lainnya.
“Karena benar, kita kan kalau melakukan non-tunai sudah pasti akan ada kerja sama dengan pihak ketiga yang sudah berlisensi. Jadi negosiasinya lumayan elok selama ini, dari secara kira-kira biayanya seperti apa,” ujar Rio dalam Media Luncheon bersama inDrive pada Kamis, 5 November di Jakarta.
Langkah ini dilakukan karena InDrive berharap, fee ini nantinya tidak akan memberatkan semua pihak, baik dari sisi komisi pengemudi maupun penumpang.
BACA JUGA:
“Karena inDrive berkomitmen bahwa kalaupun ada pembayaran non-tunai ini tidak akan ada perubahan di tarif ataupun mengenai komisi yang dikenakan ke pengemudi, karena itu adalah hal terakhir yang kami sangat tidak mau di aplikasi inDrive,” tegasnya.
Ia juga menyebut bahwa sebagian besar negara tempat inDrive beroperasi masih banyak yang mengandalkan pembayaran tunai karena alasan serupa.
“Karena lagi-lagi kalau non-tunai di negara manapun ya pastilah third party kan, namanya juga bisnis, ya mereka pasti mau fee gitu. Nah disini tujuan kami adalah untuk menekan serendah mungkin,” tutup Rio.