Bagikan:

JAKARTA - LinkedIn mengumumkan rencana baru yang mungkin bikin sebagian penggunanya waswas. Platform profesional milik Microsoft ini akan menggunakan data pengguna—seperti profil dan postingan publik—untuk melatih model AI generatif mereka. Namun, LinkedIn menegaskan bahwa pesan pribadi tidak akan ikut digunakan.

Kabar baiknya, pengguna punya kendali penuh untuk menolak. LinkedIn menyediakan opsi opt out di menu pengaturan sehingga data baru tidak lagi dipakai untuk pelatihan AI.

Langkah ini sebenarnya bukan hal mengejutkan. Seperti manusia belajar dari buku, interaksi, dan pengalaman, AI juga membutuhkan "pengetahuan" yang dikumpulkan dari teks, foto, hingga postingan di internet. Karena itu, platform besar berlomba-lomba memanfaatkan data penggunanya.

Meta, misalnya, sempat mengusulkan penggunaan foto-foto yang diunggah ke Facebook untuk melatih model AI mereka. Begitu juga Anthropic, yang menyebut percakapan dengan Claude AI ikut dimanfaatkan untuk pengembangan model.

Menurut LinkedIn di halaman bantuan resminya: “Data ini dapat mencakup detail dari profil Anda dan konten publik yang Anda posting di LinkedIn; namun tidak termasuk pesan pribadi. Kami menggunakan dasar kepentingan sah untuk memproses data Anda untuk tujuan ini.”

Meski begitu, LinkedIn menambahkan: “Anda dapat opt out kapan saja di pengaturan jika tidak ingin data Anda digunakan dengan cara ini.”

Langkah ini bisa dilakukan dengan mudah. Pengguna hanya perlu masuk ke akun LinkedIn, kemudian buka Settings & Privacy > Data Privacy > Data for Generative AI Improvement, lalu matikan opsi “Use my data for training content creation AI models.”

Namun ada catatan penting: data yang sudah terlanjur diproses tidak akan bisa ditarik kembali. Fitur opt out ini hanya berlaku untuk data baru setelah pengguna menonaktifkannya.

Dengan makin banyaknya perusahaan teknologi yang memanfaatkan data pengguna untuk melatih AI, transparansi dan opsi kontrol seperti ini menjadi hal krusial. Terlebih, kini semakin banyak pihak yang menggugat developer AI karena dianggap menggunakan data tanpa izin. LinkedIn tentu tak ingin ikut terseret ke dalam pusaran sengketa hukum semacam itu.