Bagikan:

JAKARTA – InterSystems menyoroti pentingnya penggunaan Kecerdasan Buatan (AI) dalam menjadikan Indonesia sebagai pilar inovasi kesehatan digital di Asia. Hal ini disampaikan di Asia Healthcare Summit 2025.

Di depan para pemimpin sektor kesehatan, Founder dan CEO InterSystems, Terry Ragon, membahas tentang pentingnya pengelolaan data dengan baik. Hal ini perlu diperhatikan untuk membangun sistem berbasis AI yang lebih terintegrasi dan cerdas.

“Kita sedang berada di awal perubahan besar dalam dunia komputasi ketika memasuki era AI," kata Terry pada Rabu, 3 September. Meski saat ini momentumnya sudah cukup kuat, sektor kesehatan di Asia dinilai masih menghadapi tantangan yang cukup serius.

Beberapa tantangan yang disinggung adalah masalah sistem yang terfragmentasi, literasi digital yang masih belum merata, hingga kekhawatiran publik tentang keamanan data. Hal ini perlu ditangani menurut Luciano Brustia, Regional Managing Director InterSystems.

“Transformasi kesehatan Indonesia bukan hanya pencapaian nasional, melainkan juga katalis untuk negara-negara lain. Kepemimpinan yang visioner, kolaborasi lintas industri, serta kesiapan untuk mengadopsi teknologi yang aman dapat menjadi tolok ukur baru," ujar Luciano.

Untuk menjawab tantangan ini, perusahaan penyedia teknologi data tersebut memperkenalkan InterSystems IRIS for Health, sebuah platform data yang dirancang untuk menyimpan atau menghimpun data dari berbagai sistem terhubung secara real-time.

Platform ini pun diklaim siap dipadukan dengan AI. Melalui solusi ini, rumah sakit dapat melakukan modernisasi bertahap tanpa harus mengganti infrastruktur lama. Berbagai rumah sakit terkemuka, seperti EMC Healthcare dan Pondok Indah Group, telah mengadopsi teknologi ini.

Selain itu, ada juga kapabilitas baru berupa agentic AI di InterSystems IntelliCare. Teknologi ini dirancang sebagai asisten bagi tenaga medis untuk membantu merencanakan dan mengeksekusi tugas. Dengan teknologi ini, tenaga medis dapat menghemat waktu dalam bekerja.