Bagikan:

JAKARTA – Pemerintahan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, bersiap mengumumkan cetak biru baru untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI) pada Rabu 23 Juli. Rencana tersebut bertujuan untuk melonggarkan berbagai aturan domestik yang mengatur industri AI, sekaligus memperkuat posisi AS dalam persaingan teknologi dengan China.

Presiden Trump akan menyampaikan pidato penting yang menekankan strategi AS untuk memenangkan perlombaan penguasaan teknologi AI. Persaingan di bidang ini semakin dipandang sebagai salah satu faktor penentu dalam peta geopolitik abad ke-21. Baik AS maupun China telah mengucurkan investasi besar-besaran untuk mengembangkan teknologi AI guna memperkuat posisi ekonomi dan militer mereka.R

Rencana baru ini akan mendorong ekspor teknologi AI AS ke luar negeri. Pemerintah federal juga akan mengambil langkah untuk membatasi undang-undang di tingkat negara bagian yang dinilai terlalu ketat dan dianggap menghambat perkembangan industri AI. Salah satu langkah konkret yang akan diambil adalah memotong pendanaan federal untuk proyek-proyek AI di negara bagian yang menerapkan regulasi terlalu ketat.

Komisi Komunikasi Federal (FCC) akan diminta untuk mengevaluasi apakah berbagai aturan AI di tingkat negara bagian bertentangan dengan kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah pusat. Langkah-langkah ini menandai perubahan signifikan dari kebijakan era Presiden Joe Biden yang menerapkan pendekatan lebih protektif, termasuk membatasi ekspor chip AI canggih ke berbagai negara karena kekhawatiran akan penyalahgunaannya.

Acara peluncuran rencana ini bertajuk "Winning the AI Race" akan dihadiri oleh sejumlah pejabat tinggi pemerintahan Trump, termasuk Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Penasihat Ekonomi Nasional Kevin Hassett. David Sacks, yang menjabat sebagai Kepala Kebijakan AI dan Kripto di Gedung Putih, akan menjadi salah satu pembicara utama dalam acara tersebut bersama rekan-rekannya dari podcast terkenal All-In.

Kelompok Hill and Valley Forum, sebuah forum informal yang terdiri dari para pemikir dan pemodal ventura yang turut membantu merancang kebijakan AI Trump selama masa kampanye, akan menjadi tuan rumah acara ini. Forum ini dikenal memiliki pengaruh kuat dalam penyusunan berbagai kebijakan teknologi pemerintahan Trump.

Dalam beberapa minggu mendatang, Trump diperkirakan akan mengambil langkah-langkah tambahan untuk mendukung industri teknologi besar dalam memenuhi kebutuhan pasokan listrik mereka. Kebutuhan ini semakin mendesak seiring dengan pesatnya perkembangan pusat data AI yang dikenal sangat boros energi.

Data terbaru menunjukkan bahwa permintaan listrik di AS telah mencapai rekor tertinggi tahun ini, mengakhiri periode stagnasi yang berlangsung hampir dua dekade. Lonjakan kebutuhan ini terutama didorong oleh meluasnya pembangunan pusat data untuk keperluan AI dan komputasi awan di berbagai penjuru negara.

Kebijakan baru Trump ini mencerminkan perbedaan mendasar dengan pendekatan pemerintahan Biden. Trump lebih berfokus pada penghapusan berbagai hambatan regulasi untuk mempercepat pengembangan AI, sementara Biden sebelumnya lebih menekankan pada pembatasan untuk mencegah penyalahgunaan teknologi oleh negara-negara seperti China.

Pemerintahan Biden sebelumnya telah menerapkan berbagai pembatasan ekspor chip AI canggih buatan perusahaan seperti Nvidia dan AMD ke China, karena kekhawatiran bahwa teknologi tersebut bisa digunakan untuk memperkuat kemampuan militer China.

Trump telah mencabut berbagai kebijakan tersebut, termasuk perintah eksekutif Biden yang membatasi ekspor chip AI dan aturan yang membatasi kapasitas komputasi AI yang boleh diimpor oleh negara tertentu.

Pada bulan Mei 2025, Trump bahkan mengumumkan kesepakatan dengan Uni Emirat Arab yang memberikan akses lebih luas bagi negara Teluk tersebut terhadap chip AI canggih dari AS. Padahal sebelumnya, Uni Emirat Arab termasuk salah satu negara yang menghadapi pembatasan karena kekhawatiran bahwa teknologi tersebut bisa sampai ke China.

Langkah-langkah ini merupakan bagian dari strategi besar Trump untuk mempertahankan dominasi AS dalam penguasaan teknologi AI di tingkat global, sekaligus mendorong pertumbuhan industri teknologi dalam negeri. Dengan mengurangi berbagai hambatan regulasi dan memperluas pasar ekspor, pemerintahan Trump berharap dapat memacu inovasi dan pengembangan AI di dalam negeri sambil memperkuat pengaruh AS di kancah internasional.

Para analis memperkirakan kebijakan baru ini akan mendapatkan dukungan dari kalangan industri teknologi, namun mungkin menuai kritik dari mereka yang mengkhawatirkan dampak keamanan nasional akibat melonggarnya berbagai pembatasan ekspor teknologi sensitif.