JAKARTA – Sejak awal tahun, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) belum memberikan kejelasan mengenai rencana peluncuran Satria-2. Sepertinya, rencana peluncuran ini ikut terdampak efisiensi.
Menteri Komdigi Meutya Hafid mengungkapkan bahwa pemerintah masih mengkaji satelit tersebut. Untuk saat ini, Meutya menegaskan, bahwa mereka masih fokus dengan perluasan jaringan Satria-1.
"Dengan adanya reprioritasi program pemerintah, kita tetap mengkaji tentang urgenti Satria-2. Namun demikian, karena pemerintah sedang fokus dengan reprioritasi, saat ini kita masih merasa cukup dengan adanya Satria-1," jelas Meutya di Kantor Komdigi pada Kamis, 5 Juni.
Komdigi juga tengah mengkaji perlunya satelit tambahan dari perusahaan swasta, seperti Starlink dari SpaceX dan Proyek Kuiper dari Amazon. Satelit-satelit ini diperkirakan dapat meningkatkan konektivitas jaringan di Indonesia.
"Kita sedang kaji perlunya penambahan satelit atau penopangan (satelit) di daerah low-earth orbit (LEO), seperti Starlink dan Kuiper atau teknologi lainnya," jelas Meutya.
BACA JUGA:
Menurutnya, kombinasi penggunaan satelit yang dikelola negara dan swasta ini merupakan hal yang penting karena Indonesia merupakan negara yang luas. Harapannya, pemerintah dapat mengandalkan konektivitas jaringan dari berbagai teknologi.
Hal ini mencakup pemanfaatan satelit dari berbagai wilayah, baik orbit geostasioner (GEO) maupun LEO. Kombinasi penggunaan satelit di area orbit yang berbeda dapat memperkuat jaringan yang tersedia di Tanah Air.
"Dengan model Indonesia yang kepulauan, kita akan menggunakan kombinasi pendekatan ini. Jadi, ada GEO-satelite, ada LEO-satellite, dan sebagainya. Tidak bisa pilih hanya ini (GEO) atau hanya yang satunya (LEO)," ungkap Meutya.