Bagikan:

JAKARTA - Harga Bitcoin melonjak lebih dari 12 persen dalam sepekan terakhir dan kini diperdagangkan di atas 94.000 dolar AS atau sekitar Rp1,58 miliar. 

Kenaikan ini dipicu oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengindikasikan kemungkinan pelonggaran tarif terhadap impor dari China. 

Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur melihat respon pasar yang cukup positif, dengan ekspektasi bahwa Bitcoin akan segera menembus level psikologis 100.000 dolar AS (Rp1,68 miliar). 

“Pernyataan Trump menjadi katalis kuat bagi lonjakan harga Bitcoin. Namun, investor tetap harus waspada terhadap potensi volatilitas tinggi yang masih membayangi pasar akibat dinamika geopolitik,” kata Fyqieh dalam keterangannya pada Kamis, 24 April. 

Puncak reli Bitcoin terjadi pada 23 April, ketika Bitcoin mencetak rekor tertinggi baru di 94.220 dolar AS (Rp1,59 miliar). 

“Beberapa analis memperkirakan harga bisa terus naik hingga 106.000 dolar AS (Rp1,79 miliar), bahkan ada yang menargetkan 180.000 dolar AS (Rp3,03 miliar) dalam jangka panjang,” jelasnya. 

Harapan bahwa ketegangan dagang AS-China akan mereda turut menjadi bahan bakar optimisme pasar. Penurunan tarif dinilai dapat meredam inflasi dan membuka peluang bagi The Fed untuk menurunkan suku bunga. 

Bahkan, Presiden Trump telah secara terbuka meminta Ketua The Fed, Jerome Powell, untuk mempertimbangkan pelonggaran kebijakan moneter.

“Meski sebagian analis tetap berhati-hati melihat harga masih berada dalam fase konsolidasi, momentum kuat dari kombinasi faktor geopolitik, arus institusional, dan kebijakan pro-kripto diyakini akan terus mendorong pertumbuhan sektor ini,” tutupnya.