Bagikan:

JAKARTA – Palo Alto Networks merilis laporan Unit 42 Global Incident Response 2025 mengenai fokus serangan siber saat ini. Di laporan tersebut, tercatat bahwa 44 persen insiden melibatkan web browser. 

Dari berbagai insiden keamanan yang terdiri, para penjahat siber kini fokus melakukan gangguan operasional bisnis, melakukan serangan dengan dukungan Kecerdasan Buatan (AI), dan taktik lainnya yang memanfaatkan ransomware serta pencurian data. 

Seluruh informasi mengenai serangan keamanan ini diperoleh dari 500 kasus yang ditangani Unit 42 pada Oktober 2023 hingga Desember tahun lalu. Data mengenai serangan siber ini juga diambil dari kasus yang terjadi pada 2021 lalu di 38 negara, termasuk Indonesia. 

Banyak sektor penting yang menjadi target serangan siber di Indonesia, termasuk lembaga pemerintah dan perusahaan telekomunikasi. Menurut Palo Alto Networks, pemerintah harus merespons peningkatan risiko serangan ini dengan cepat dan tepat. 

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Komdigi) perlu mempercepat pembuatan peraturan keamanan siber untuk mengamankan infrastruktur publik. Selain itu, kolaborasi antara seluruh pemangku kepentingan, termasuk sektor publik dan swasta, sangat dibutuhkan. 

"Keamanan siber adalah tanggung jawab bersama, membutuhkan kolaborasi dan pendekatan terpadu untuk tetap menjadi yang terdepan dan memastikan ketahanan terhadap ancaman siber yang terus berkembang,” kata Adi Rusli, Country Manager Indonesia Palo Alto Networks.

Laporan Unit 42 pun mengungkapkan bahwa mayoritas serangan siber menyerang sektor penting di Indonesia, salah satunya Keuangan. Melihat hal ini, baik pemerintah maupun perusahaan perlu mengambil tindakan yang lebih proaktif selain memperkuat peraturan keamanan siber. 

"Serangan siber terhadap sejumlah sektor penting seperti lembaga keuangan, penyedia layanan, dan instansi pemerintah di Indonesia semakin canggih," ungkap Adi. "Ini berarti bahwa bisnis harus mengambil pendekatan proaktif dalam rangka memperkuat pertahanan siber mereka dan membangun ekosistem digital yang lebih mumpuni."