JAKARTA – Saat ini, personal color menjadi hal yang cukup populer agar masyarakat bisa menentukan warna pakaian hingga make up yang tepat. Tren ini diadopsi oleh Wardah dengan memadukan teknologi.
Perusahaan yang bergerak di industri kecantikan ini menggelar Wardah Colourverse di Senayan City, Jakarta Pusat. Acara yang diselenggarakan hingga 16 Februari ini berkolaborasi dengan global color expert untuk menggabungkan science, art, dan technology.
Di acara ini, Wardah memperkenalkan teknologi terbarunya, yakni Wardah Color Intelligence yang terintegrasi dengan Beauty AI Personal Colour. Teknologi ini dapat menganalisis personal color menggunakan tiga parameter utama, di antaranya adalah Hue, Saturation, dan Brightness.
Findi Novia Lusintasari, Wardah Decorative Marketing Group Head, mengatakan bahwa kehadiran teknologi ini merupakan bagian dari komitmen perusahaannya. Pihaknya ingin menjawab seluruh kebutuhan konsumen yang sering memiliki kendala dalam menentukan warna.
"Komitmen kami sebagai beauty brand nomor satu di Indonesia berusaha untuk bisa menjawab kebutuhan konsumen. Jadi, pertama komitmen tentang bagaimana kita bisa mengadopsi teknologi yang terbaru dan memberikan jawaban atas kebutuhan konsumen," kata Findi dalam sesi talkshow pada Jumat, 14 Februari.
Untuk menghadirkan teknologi AI Personal Colour ini, Wardah bermitra dengan Pixie Lab, perusahaan yang fokus pada eksperimen, inovasi, dan kreativitas. CEO Pixie Lab Belinda Luis mengungkapkan bahwa mereka menciptakan AI yang mempelajari skintone konsumen di Indonesia.
AI Personal Colour milik Wardah menggunakan database yang berisi lebih dari 200 ribu personal color experience dari Acara Wardar sebelumnya. Data ini diambil untuk dilatih melatih sistem AI sehingga teknologi Wardah dapat mengidentifikasi pola dan membaca kebutuhan konsumen sesuai dengan warna kulit hingga kondisi kulit.
"Dari situ kita olah dengan AI untuk mempelajari data-data tersebut. Nah, dari situ kita juga mengkreasikan hyper-localization dari AI ini di dalam platform personal color analysis untuk teman-teman Wardah di sini. Teman-teman bisa mencoba dan skinnya di-analyze, itu keluarlah beberapa jenis skin tone," ujar Belinda.
Penggunaan AI tidak membutuhkan dana yang sedikit. Ketika ditanya berapa dana yang dibutuhkan perusahaan tersebut dalam mengembangkan teknologi tersebut, Findi menolak untuk menyebutkan berapa dana yang dikeluarkan perusahaan tersebut.
Namun, Findi mengatakan bahwa dana yang mereka keluarkan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai oleh perusahaan tersebut. Mereka juga mengeluarkan dana sebagai investasi, bukan sebagai pengeluaran dana biasa.
"Kalau ngomongin biaya, sebenarnya itu kan kreatif, ya. Ada biaya, kita bilang itu biayanya tinggi, tapi mungkin balik sebenarnya ke tujuannya kalau menurut aku. Jadi, kalau ngomongin biaya, kan sebenarnya balik ke intensinya," ujar Findi kepada VOI.
Findi juga menolak untuk menyebutkan dana karena mereka hanya mengeluarkan dana sesuai dengan kebutuhan teknologinya. Findi juga menjelaskan bahwa AI membutuhkan infrastruktur yang tepat sehingga dana yang dikeluarkan sudah pasti untuk mengembangkan infrastrukturnya juga.